Film Suamiku Lukaku karya sutradara Sharrad Sharan dan Viva Westi, mengandung pesan edukasi untuk tidak diam terhadap kekerasan dalam rumah tangga.

Isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering kali hadir dalam sunyi. Banyak perempuan mengalaminya di ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman: rumah. Melalui film Suamiku Lukaku, para pembuatnya berusaha membuka ruang percakapan yang lebih luas, bukan hanya tentang luka, tetapi juga tentang keberanian untuk bersuara.
Bagi Sharad Sharan, film ini adalah proyek yang sangat personal. Ide ceritanya telah ia simpan di dalam hati selama hampir sepuluh tahun.
Sebagai sutradara professional yang telah menghasil ratusan judul sinetron alur cerita, karakter pemeran menjadi hal penting agar cerita yang disampaikan terasa kuat di layar. Sharad, menceritakan, ia teringat masa kecilnya ketika melihat adanya perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan.
“Waktu kecil saya lihat laki-laki sama perempuan dua-duanya agak beda. Bapak saya selalu jaga saya, tapi untuk saudara perempuan saya ada beda. Saya bisa keluar malam, tapi perempuan tidak boleh,” ungkap Sharad baru-baru ini.
Pertanyaan sederhana itu terus membekas dalam dirinya, mengapa perempuan diperlakukan berbeda?
Selama bertahun-tahun, Sharad mencoba menawarkan cerita ini, namun banyak pihak ragu karena tema yang dianggap terlalu berat. “Cerita ini sudah sepuluh tahun di hati saya, tapi tidak ada yang mau bikin karena katanya siapa yang mau nonton,” jelasnya.
Meski demikian, ia terus menyempurnakan naskahnya. Bersama penulis Indonesia Titiwati Mena, mereka menyusun hingga 22 draft dalam satu tahun agar setiap adegan terasa autentik.
“Saya minta adegan-adegannya harus semua nyata, semua real story,” katanya.
Pengalaman hidupnya di berbagai negara juga membuatnya semakin yakin bahwa kekerasan domestik adalah masalah global.
“Saya tinggal di Malaysia 15 tahun, saya lihat juga kejadian seperti ini. Di India juga ada, bahkan di keluarga saya juga pernah saya lihat,” ujar Sharad.
Karena itulah film ini menjadi sangat dekat dengan hatinya. “It’s very dear to my heart,” tandasnya.
Ia berharap penonton tidak hanya menonton, tetapi juga merasakan emosi yang kuat dari cerita tersebut. Dengan nada bercanda namun penuh makna, ia bahkan mengingatkan penonton untuk bersiap secara emosional.
“Anda pasti harus ada tissue box. Don’t forget to bring your tissue,” katanya dengan tersenyum.






