Cakraline.com. Papin (53 ) hanya bisa menatap rumah keluarga maupun pesantren Arriyadhul Falah Darussalam, milik guru-nya tinggal puing-puing yang berserakan akibat bencana pergerakan tanah yang terjadi dua bulan lalu dikampungnya, dusun Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi.

“ Ini pesantren milik guru saya, hancur semua, alhamdulillah pak Kyai dan santri selamat semua,” ucap Pipin.
Keluarga Kiay maupun santri mengunsgi kampung sebelah, untuk semantara santri belajar di menumpang disebuh sekolah dasar negeri di dusun Pasepan.
Papin menceritakan, sebagian keluarga sudah mengungsi bersama pengungsi lain. Mereka tinggal dikontrakan yang disedakan Pemkab Kabupaten Sukabumi.
Sejak peristiwa 19 Februai 2026, dusun Cijambe nyaris menjadi dusun mati. Dusun itu porak poranda, puing-puing rumah menutup akses jalan desa.
Warga sudah mulai bangkit secara perlahan. Ia berharap kerusakan yang dialami dalam waktu tak terlalu lama bisa diperbaiki. “ Rasa takut sudah berkurang, warga sudah mulai menyadari ini sebuah bencana,” ucapnya.
Papin, mengakui daerah perbukitan dibelakang rumahnya, sudah terjadi pengundulan hutan. “ Waktu saya kecil dibukit itu masih banyak pohon karet, pohon kelapa, sekarang sudah tak pepohonan,” jelasnya.
Papin menjelaskan, selama bulan puasa dan lebaran warga yang semestinya bisa menjalankan ibadah dengan suka ria, harus metinggal rasa kegetiran yang dalam. Bertahan dipos pengungsian. Ia ingat, salah satu anak kecil bertanya pada orangtuanya, “ Mereka nangis, terus tanya, pak kapan kita pulang ? Disini panas. Waktu ada tujuh posko, ditempati sekitar 30 orang. Tidak ada selimut, tak matras, tinggal seadanya,” ujarnya.
Dikatakan, suasana Lebaran dikampungnya pun penuh rasa keprahatinan. “ Yang dulu lebaran ada istilah, saling memaafkan, saling silaturahmi, rumah kerumah. Ada yang tanya, pak kok saya nggak dapat ada baju lebaran, nggak ketemu teman. Sekarang mereka berpencar, ada yang ngontrak sekitar sini, yang dtinggal drumah kerabat di Sukabumi atau Pelabuhan ratu, ad ayang dimana. Sampai sekarang masih ada dua keluarga yang tetap memilih bertahan tinggal di hutan. Kenapa, ia berpikir kalau ngotrank untuk biaya hidup seperti apa,” tutupnya. .





