Oleh : Duiddo Imani Muhammad Alumni Universitas Gadjah Mata 2025
Cakraline.com – Malang – Materi yang disampaikan Ketua KPU Kota Malang dalam forum ini mengangkat pertanyaan yang jarang dibunyikan secara terbuka di ruang ruang kaderisasi HMI: Apakah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) masih relevan sebagai kerangka berpikir ketika kader dihadapkan pada logika akumulasi kapital yang mengeksploitasi alam tanpa jeda?

Industrialisasi ekstraktif— pertambangan, deforestasi untuk perkebunan monokultur, hilirisasi yang mOleh engorbankan ekologi demi rente — bukan sekadar persoalan kebijakan ekonomi, melainkan pertarungan epistemologis tentang bagaimana manusia memaknai alam semesta. NDP, dalam hal ini, bukan dokumen ideologis yang selesai dibaca sekali lalu dihafal, melainkan instrumen kritis yang harus terus-menerus diuji ulang relevansinya.
Islam sebagai Teologi Pembebasan
Ali Syariati menawarkan titik pijak penting: Islam bukan agama status quo yang melegitimasi struktur kekuasaan yang ada, melainkan din altauhid yang secara inheren revolusioner. Bagi Syariati, kejumudan intelektual (stagnasi berpikir) adalah bentuk penjajahan yang lebih halus dari kolonialisme fisik — ia membekukan kesadaran kritis umat sehingga eksploitasi struktural tampak sebagai keniscayaan alamiah. Dalam kerangka ini, alam semesta bukan sekadar sumber daya yang menunggu diekstraksi, melainkan kesatuan yang holistik dan sui generis — sesuatu yang berdiri dengan hukumnya sendiri, tidak direduksi menjadi komoditas.
Tauhid sosial, sebagai turunan praksis dari tauhid teologis, menolak fragmentasi ini: manusia, alam, dan Tuhan bukan tiga entitas terpisah yang bisa diperlakukan secara instrumental satu sama lain. Kapitalisme ekstraktif, dibaca lewat lensa Syariati, adalah bentuk syirik struktural — menuhankan kapital di atas keseimbangan kosmis.
Pertemuan Tiga Aliran Akidah: Mencari Wajah Islam HMI
NDP tidak lahir dari satu mazhab kalam tunggal. Asy’ariyah, Maturidiyah, dan kecenderungan literalis-tekstualis semuanya hadir dalam tubuh kader HMI tanpa pernah benar-benar diselesaikan pertentangannya secara formal. Pertanyaannya kemudian : apakah ini menjadikan Islam HMI sebagai Islam yang kaffah —utuh secara komprehensif ataukah justru berakhir sebagai hibrida yang gamang, terjebak di antara Islam abangan yang longgar secara ritual dan Islam santri yang ketat secara fikih?
Jawaban FISIPOLnya tidak menghindar dari ambiguitas ini, tetapi membacanya sebagai kekuatan, bukan kelemahan: NDP sengaja tidak menjadikan kepatuhan mazhab formal sebagai ukuran keislaman kader, melainkan menempatkan maqashid syariah — tujuan-tujuan besar syariat seperti keadilan dan pemeliharaan alam — sebagai basis etik bersama. Dalam menghadapi kapitalisme ekstraktif, perdebatan furu’iyah antar-mazhab justru menjadi distraksi; yang dibutuhkan adalah konsensus substantiflintas akidah bahwa eksploitasi tanpa batas bertentangan dengan tauhid, apa pun mazhab kalam yang dianut.
Hadis Jibril sebagai Fondasi Epistemologis NDP
Struktur NDP, jika ditelusuri genealogi pemikirannya, tidak jauh dari arsitektur Hadis Jibril: Islam sebagai dimensi syariat dan praksis lahiriah, Iman sebagai dimensi keyakinan teologis, dan Ihsan sebagai puncak kesadaran beribadah seolah-olah menyaksikan Tuhan. NDP mengikuti pola gradasi ini: dari pemahaman normatiftentang manusia dan masyarakat, menuju keyakinan tauhid yang mendasari seluruh gerak perjuangan, hingga pada muaranya, Ihsan — kepekaan etis yang membuat kader tidak bisa bersikap netral ketika menyaksikan sungai tercemar limbah tambang atau hutan adat digusur korporasi. Ihsan dalam konteks ini bukan spiritualitas privat, melainkan kesadaran sosial yang aktif menolak keserakahan struktural.
Perubahan Iklim: Ujian sekaligus Barokah
Poin terakhir barangkali yang paling provokatif: krisis iklim bisa dibaca sekaligus sebagai ujian dan barokah. Barokah, karena umat manusia — termasuk kontribusi keilmuan dari peradaban Islam — telah mencapai kapasitas teknologis untuk menembus ruang angkasa, sebagaimana diisyaratkan dalam Ar-Rahman ayat 33-34: bahwa jin dan manusia tidak akan mampu menembus penjuru langit dan bumi kecuali dengan sulthan (kekuatan, otoritas, penguasaan ilmu). Pencapaian sains ini sejalan dengan janji Al-Mujadalah ayat 11, bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang berilmu.
Namun di sinilah letak ujiannya: kapasitas teknologis yang sama yang memungkinkan manusia menjangkau luar angkasa juga memungkinkan eksploitasi ekstraktifberskala industri yang merusak mizan (keseimbangan) bumi. Ilmu tanpa tauhid sosial melahirkan hybris kolonial baru — penguasaan atas alam yang lupa pada batas etisnya. NDP HMI, dalam pengertian ini, harus menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya menjadi barokah sejati apabila ia tunduk pada kesadaran tauhid, bukan sebaliknya, menjadi instrumen baru penindasan ekologis.
Keempat titik ini — teologi pembebasan Syariati, pluralitas akidah yang disatukan maqashid, epistemologi Hadis Jibril, dan paradoks sains iklim — pada akhirnya menuntun pada satu kesimpulan: NDP bukan sekadar warisan intelektual yang harus dihafal kader HMI, melainkan metode berpikir yang harus terus dipertajam untuk membaca dan melawan logika ekstraktifzaman ini.





