Muhammad Fadli L Mahasiswa FEB UGM
Cakraline.com. Yogyakarta – Jika diperhatikan, banyak aktivitas yang dahulu dianggap biasa kini mulai jarang dilakukan. Memesan makanan dengan datang langsung ke warung, mencari tukang servis melalui rekomendasi tetangga, atau menunggu angkutan umum di pinggir jalan perlahan tergantikan oleh aplikasi digital.

Saat ini, seseorang dapat memesan makanan, kendaraan, hingga jasa kebersihan rumah hanya dalam beberapa menit melalui telepon genggam. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan, tetapi juga mengubah kebiasaan dan cara pandang mereka terhadap kehidupan sehari-hari.
Perubahan ini sangat terlihat di kalangan mahasiswa dan pekerja muda di perkotaan. Sebagai contoh, mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas sering kali memilih memesan makanan melalui aplikasi daripada keluar mencari makan. Secara ekonomi, keputusan tersebut belum tentu paling hemat karena terdapat biaya layanan dan ongkos kirim. Namun, banyak orang merasa bahwa waktu yang dihemat jauh lebih berharga dibandingkan biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak lagi hanya membeli barang atau jasa, tetapi juga membeli kenyamanan dan efisiensi.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan layanan digital berbasis on-demand seperti Gojek, Grab, ShopeeFood, dan Maxim telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut laporan e-Conomy SEA 2024, Indonesia masih menjadi pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan yang didorong oleh sektor transportasi daring, layanan pesan antar makanan, dan perdagangan elektronik (Google, Temasek, & Bain, 2024). Data tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi jasa bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan telah berkembang menjadi budaya baru dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari sudut pandang antropologi ekonomi, fenomena ini menarik untuk dikaji karena aktivitas ekonomi pada dasarnya tidak pernah berdiri sendiri. Karl Polanyi (1944) menjelaskan bahwa tindakan ekonomi selalu melekat pada nilai sosial, budaya, dan hubungan antarindividu dalam masyarakat. Dengan kata lain, meningkatnya penggunaan layanan on-demand tidak hanya disebabkan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga karena masyarakat mulai menganggap kemudahan, kecepatan, dan efisiensi sebagai nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Kebutuhan Menjadi Kebiasaan
Menariknya, penggunaan layanan digital saat ini tidak lagi didorong oleh kebutuhan semata. Banyak orang menggunakan layanan on-demand bahkan ketika mereka sebenarnya masih memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan aktivitas tersebut secara langsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi jasa telah bergerak dari sekadar alat bantu menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.
Sebagai contoh, banyak mahasiswa memilih memesan kopi atau makanan melalui aplikasi meskipun lokasi kafe hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal mereka. Alasan yang muncul sering kali bukan karena jarak yang jauh, melainkan karena lebih praktis dan tidak mengganggu aktivitas yang sedang dilakukan. Di sinilah terlihat bahwa kemudahan telah menjadi pertimbangan utama dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
Dalam perspektif antropologi ekonomi, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan nilai dalam masyarakat. Jika dahulu masyarakat lebih menghargai proses dan interaksi sosial dalam memperoleh suatu barang atau jasa, kini kecepatan dan efisiensi menjadi nilai yang semakin dominan. Perubahan tersebut mencerminkan bagaimana budaya dapat berkembang mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan masyarakat.
Perubahan Membangun Kepercayaan
Salah satu perubahan paling menarik dari perkembangan layanan digital adalah perubahan cara masyarakat membangun kepercayaan. Sebelum era platform digital, seseorang biasanya memilih penyedia jasa berdasarkan rekomendasi keluarga, tetangga, atau teman dekat. Hubungan sosial menjadi dasar utama dalam menentukan apakah suatu jasa dapat dipercaya atau tidak.
Namun, situasi tersebut mulai berubah. Saat ini, konsumen lebih sering melihat rating, ulasan, dan jumlah transaksi sebelum memutuskan menggunakan suatu layanan. Ketika membutuhkan jasa servis AC, misalnya, seseorang cenderung memilih penyedia jasa dengan penilaian 4,9 bintang dibandingkan penyedia jasa yang tidak memiliki ulasan meskipun direkomendasikan oleh orang lain.
Menurut Pavlou dan Dimoka (2006), sistem reputasi digital memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan konsumen dalam lingkungan digital. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan yang dahulu dibangun melalui hubungan sosial kini mulai bergeser menjadi kepercayaan yang dibangun melalui sistem digital.
Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa teknologi tidak hanya mengubah transaksi ekonomi, tetapi juga mengubah pola hubungan sosial dalam masyarakat. Kepercayaan yang sebelumnya bersifat personal kini semakin bergantung pada data dan informasi yang disediakan oleh platform digital.
Budaya Instan dan Meningkatnya Ekspektasi Konsumen
Kemudahan yang ditawarkan layanan on-demand membawa berbagai manfaat, tetapi juga memunculkan konsekuensi yang menarik untuk dianalisis. Salah satunya adalah munculnya budaya instan di kalangan masyarakat modern.
Ketika makanan dapat datang dalam waktu kurang dari tiga puluh menit dan kendaraan dapat dipesan hanya dalam hitungan detik, masyarakat mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat. Akibatnya, standar terhadap kualitas pelayanan juga ikut berubah. Konsumen menjadi kurang toleran terhadap keterlambatan dan lebih mudah menyampaikan keluhan ketika layanan tidak sesuai harapan.
Fenomena ini terlihat jelas pada layanan transportasi daring maupun pesan antar makanan. Keterlambatan yang dahulu dianggap wajar kini sering kali langsung dianggap sebagai bentuk pelayanan yang buruk. Dalam kondisi tertentu, konsumen bahkan dapat memberikan penilaian rendah hanya karena pesanan datang sedikit lebih lama dari perkiraan aplikasi.
Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi secara tidak langsung membentuk standar sosial baru mengenai apa yang dianggap cepat, baik, dan memuaskan. Masyarakat akhirnya hidup dalam lingkungan yang menuntut respons serba cepat, baik sebagai konsumen maupun sebagai penyedia layanan.
Dampak terhadap Pekerja dan Struktur Ekonomi
Di balik berbagai kemudahan yang dirasakan konsumen, terdapat jutaan pekerja yang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital. Pengemudi transportasi daring, kurir makanan, hingga penyedia jasa rumah tangga kini menjadi aktor penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia.
Kehadiran platform digital membuka peluang kerja yang relatif mudah diakses oleh berbagai kelompok masyarakat. Banyak individu yang memanfaatkan platform tersebut sebagai sumber pendapatan utama maupun tambahan. Namun, di sisi lain, pekerja ekonomi platform juga menghadapi tantangan berupa ketidakpastian pendapatan, persaingan yang tinggi, serta ketergantungan terhadap sistem algoritma yang mengatur distribusi pekerjaan (ILO, 2024).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi jasa tidak hanya mengubah perilaku konsumen, tetapi juga menciptakan bentuk hubungan kerja baru yang berbeda dari sistem kerja konvensional. Oleh karena itu, perkembangan ekonomi digital perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dari sisi manfaatnya bagi konsumen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pekerja.
Penutup
Perkembangan layanan digital berbasis on-demand telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehadirannya tidak hanya mempermudah akses terhadap berbagai jasa, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang waktu, kenyamanan, dan kepercayaan. Dalam perspektif antropologi ekonomi, perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi dan budaya memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika teknologi berubah, pola perilaku dan nilai yang dianut masyarakat juga ikut mengalami perubahan.
Fenomena digitalisasi jasa pada akhirnya menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sedang memasuki fase baru dalam budaya konsumsi. Kemudahan dan kecepatan kini menjadi nilai yang semakin dihargai, bahkan sering kali mengalahkan pertimbangan biaya. Namun, di tengah berbagai kemudahan tersebut, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga nilai-nilai sosial yang selama ini menjadi kekuatan budaya Indonesia, seperti gotong royong, interaksi sosial, dan kepercayaan antarindividu.
Dengan demikian, digitalisasi jasa tidak dapat dipahami hanya sebagai kemajuan teknologi semata. Lebih dari itu, digitalisasi merupakan proses transformasi budaya yang sedang membentuk wajah baru kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia.
Daftar Pustaka
Google, Temasek, & Bain & Company. (2024). e-Conomy SEA 2024 Report.
International Labour Organization. (2024). World Employment and Social Outlook 2024: The Role of Digital Labour Platforms in Transforming the World of Work.
Pavlou, P. A., & Dimoka, A. (2006). The nature and role of feedback text comments in online marketplaces. Information Systems Research, 17(4), 392–414.
Polanyi, K. (1944). The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Boston: Beacon Press.





