Muhammad Haris Mahasiswa FEB UGM
Cakraline. com. Yogyakarta – Jika beberapa tahun lalu kopi identik dengan minuman orang tua atau teman begadang saat ujian, kini kopi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Di berbagai kampus Indonesia, termasuk lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, pemandangan mahasiswa yang mengerjakan tugas sambil menikmati es kopi susu atau duduk berjam-jam di coffee shop sudah menjadi hal yang sangat biasa.

Bahkan bagi sebagian mahasiswa, aktivitas kuliah, rapat organisasi, diskusi kelompok, hingga menyusun skripsi sering kali dilakukan di kedai kopi dibandingkan di perpustakaan atau ruang kelas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi kopi tidak lagi sekadar didorong oleh kebutuhan fisik untuk menghilangkan rasa kantuk. Kopi telah mengalami transformasi menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa modern. Kehadiran ribuan coffee shop dengan konsep yang beragam, mulai dari kedai sederhana hingga kafe berdesain estetik, turut memperkuat perubahan tersebut. Dalam konteks ini, kopi tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman, tetapi juga sebagai simbol aktivitas, produktivitas, dan identitas sosial.
Perubahan budaya konsumsi kopi ini menarik untuk dikaji melalui perspektif antropologi ekonomi karena menunjukkan bagaimana suatu komoditas dapat memperoleh makna sosial yang lebih luas daripada fungsi ekonominya. Aktivitas membeli kopi kini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi, tetapi juga dengan cara mahasiswa membangun relasi sosial, menampilkan identitas diri, dan berpartisipasi dalam budaya digital yang berkembang di lingkungan kampus.
Ruang Sosial Mahasiswa
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah bergesernya fungsi coffee shop dari sekadar tempat membeli minuman menjadi ruang sosial mahasiswa. Banyak mahasiswa memilih coffee shop sebagai tempat mengerjakan tugas kelompok, berdiskusi, melakukan rapat organisasi, bahkan mengikuti kelas daring.
Fenomena ini menunjukkan bahwa coffee shop telah bertransformasi menjadi third place atau ruang ketiga, yaitu ruang yang berada di luar rumah dan kampus tetapi memiliki fungsi sosial yang penting. Penelitian Purnomo et al. (2021) menunjukkan bahwa budaya ngopi di Indonesia berkembang menjadi aktivitas sosial yang memperkuat interaksi dan membangun jaringan sosial di kalangan kelas menengah perkotaan. Temuan tersebut relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini yang menjadikan coffee shop sebagai ruang berkumpul sekaligus ruang produktivitas.
Di lingkungan kampus, mahasiswa sering memilih coffee shop bukan semata-mata karena kualitas kopinya. Faktor seperti ketersediaan Wi-Fi, stop kontak, suasana nyaman, desain interior yang menarik, dan kemudahan akses justru sering menjadi pertimbangan utama. Dengan kata lain, yang dibeli bukan hanya secangkir kopi, tetapi juga pengalaman dan suasana yang mendukung aktivitas sehari-hari.
Simbol Gaya Hidup
Perkembangan budaya kopi di Indonesia menunjukkan bahwa kopi telah mengalami pergeseran makna. Jika dahulu kopi lebih banyak dikonsumsi sebagai kebutuhan sehari-hari, kini kopi menjadi bagian dari representasi gaya hidup generasi muda.
Menurut Arviani (2025), perkembangan industri kopi modern di Indonesia didorong oleh perubahan budaya konsumsi yang menempatkan kopi sebagai simbol identitas dan ekspresi diri. Konsumen muda tidak lagi hanya mempertimbangkan rasa atau harga, tetapi juga pengalaman yang diperoleh selama mengonsumsi produk tersebut.
Fenomena ini dapat diamati dengan mudah di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa yang secara rutin mengunggah foto kopi, suasana coffee shop, atau aktivitas belajar di media sosial. Secara tidak langsung, aktivitas tersebut membentuk citra tertentu mengenai produktivitas, gaya hidup, dan eksistensi sosial.
Dalam perspektif antropologi ekonomi, kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak hanya memiliki nilai guna (use value), tetapi juga nilai simbolik (symbolic value). Secangkir kopi dapat menjadi media untuk menunjukkan preferensi, status sosial, hingga identitas kelompok tertentu.
Media Sosial dan Fenomena FOMO
Transformasi budaya konsumsi kopi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media sosial. Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya berperan besar dalam membentuk tren konsumsi kopi di kalangan mahasiswa.
Banyak coffee shop saat ini dirancang dengan konsep visual yang menarik agar mudah dibagikan di media sosial. Tidak sedikit mahasiswa yang mengunjungi suatu kedai kopi karena melihat unggahan teman atau konten kreator yang sedang populer.
Penelitian Auria (2025) menemukan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu faktor yang mendorong generasi muda untuk mengunjungi coffee shop tertentu. Konsumsi kopi sering kali dilakukan sebagai bentuk partisipasi dalam tren sosial yang sedang berkembang, bukan semata-mata karena kebutuhan akan produk kopi itu sendiri.
Akibatnya, keputusan konsumsi sering kali dipengaruhi oleh faktor sosial dan psikologis. Mahasiswa tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan aktual, tetapi juga keinginan untuk tetap relevan dalam lingkungan sosialnya.
Produktivitas dan Konsumerisme
Di satu sisi, budaya kopi memberikan berbagai manfaat bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa merasa lebih fokus ketika belajar di coffee shop dibandingkan di lingkungan yang kurang kondusif. Suasana yang nyaman, musik yang tenang, dan lingkungan yang mendukung sering kali membantu meningkatkan konsentrasi saat mengerjakan tugas (Ramadhoni, 2024).
Namun, di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan kecenderungan konsumtif. Pengeluaran yang awalnya hanya ditujukan untuk kebutuhan belajar dapat berkembang menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar. Tidak sedikit mahasiswa yang menghabiskan puluhan hingga ratusan ribu rupiah setiap minggu hanya untuk membeli kopi dan menghabiskan waktu di coffee shop.
Penelitian mengenai perilaku konsumen kopi menunjukkan bahwa gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian kopi pada konsumen muda (Yaseen et al., 2025). Dengan demikian, keputusan membeli kopi sering kali dipengaruhi oleh faktor simbolik dan sosial yang lebih kuat dibandingkan pertimbangan utilitas ekonomi semata.
Refleksi dari Perspektif Antropologi Ekonomi
Dari sudut pandang antropologi ekonomi, transformasi budaya konsumsi kopi pada mahasiswa menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi selalu dipengaruhi oleh nilai sosial dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Keputusan membeli kopi tidak semata-mata didasarkan pada kebutuhan fisik, tetapi juga pada makna sosial yang melekat pada aktivitas tersebut.
Coffee shop telah menjadi ruang di mana mahasiswa membangun jaringan sosial, mengekspresikan identitas diri, dan berpartisipasi dalam budaya digital. Oleh karena itu, konsumsi kopi saat ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan budaya baru di lingkungan kampus.
Daftar Pustaka
Arviani, H. (2025). Consumption, Coffee Shop, Coffee Culture, Indonesia. International Conference on Media Studies.
Auria, T. R. (2025). Fenomena FOMO Coffee Shop sebagai Gaya Hidup Remaja. Jurnal Kajian Media dan Sosial.
Purnomo, M., Yuliati, Y., Shinta, A., & Riana, F. D. (2021). Developing Coffee Culture Among Indonesia’s Middle-Class: A Case Study in A Coffee-Producing Country. Cogent Social Sciences (Scopus Q2).
Ramadhoni, R. D. (2024). Peran Coffee Shop dalam Menunjang Minat Belajar di Kalangan Mahasiswa.
Yaseen, et al. (2025). Lifestyle Factors and Coffee Purchasing Decisions Among Young Consumers.





