Film Ketok Mejik Mendapat Perhatian Pasar India
Cakraline.com. Jakarta – Industri film Indonesia, menunjukkan bahwa cerita lokal tetap memiliki peluang untuk diterima penonton internasional ketika mempunyai tema yang mudah dipahami lintas budaya. Film drama komedi Ketok Mejik, produksi Haha Production yang melibatkan SHOW Token sebagai Executive Producer ini juga membawa ambisi lebih jauh: memperkenalkan intellectual property (IP) film Indonesia ke pasar internasional

Film yang disutradarai Yogi S. Calam tersebut telah menggelar special screening di Surabaya dan Malang pada 1–2 Agustus 2026. Keterlibatan SHOW Token membuat Ketok Mejik tidak berhenti sebagai proyek film layar lebar. Film ini menjadi bagian dari strategi untuk melihat sejauh mana cerita Indonesia bisa dikembangkan menjadi IP yang memiliki daya tarik bagi penonton di luar negeri.
“Goal saya adalah membawa Indonesia ke global market, bukan global market yang datang ke Indonesia. Kami ingin membawa proyek-proyek Indonesia ke pasar internasional,” ujar Akshay.
Peluang tersebut mulai terlihat ketika Ketok Mejik mendapat perhatian dari pasar India. Akshay mengungkapkan dirinya sempat bertemu dengan pihak pemerintah India untuk memperkenalkan film tersebut. Menurut Akshay, cerita Ketok Mejik memiliki titik temu dengan budaya populer di India karena konsep bengkel ketok magic juga dikenal di negara tersebut.
“Saya kemarin diundang oleh pemerintah India dan menjelaskan cerita Ketok Mejik. Di sana juga ada konsep ketok magic, sehingga mereka bisa memahami ceritanya,” kata Akshay.
Ia menyebut ketertarikan terhadap film tersebut muncul dalam waktu relatif singkat setelah konsep ceritanya diperkenalkan. Dari sisi industri, Ketok Mejik menjadi contoh bagaimana sebuah film mulai dilihat bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan IP.
Cerita yang memiliki karakter dan konflik kuat dapat dikembangkan lebih jauh melalui distribusi internasional, kerja sama produksi, adaptasi, hingga kemungkinan remake di negara lain.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi SHOW Token dalam melihat potensi industri hiburan Indonesia. “Indonesia punya banyak cerita dan IP yang bisa dibawa ke luar negeri. Kami ingin membuka peluang agar IP Indonesia dapat dikembangkan di pasar lain melalui kerja sama dengan partner internasional,” ujar Akshay.
Dengan strategi itu, keberhasilan sebuah film tidak hanya diukur dari jumlah penonton ketika tayang di bioskop. Potensi perjalanan ceritanya setelah penayangan juga menjadi bagian penting dari nilai sebuah IP. Sebelum memasuki penayangan nasional, Ketok Mejik juga mencoba membangun kedekatan dengan penonton melalui special screening di sejumlah kota.
Surabaya dan Malang menjadi dua kota yang dipilih untuk memperkenalkan film tersebut lebih awal. Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas basis penonton film Indonesia di luar pasar Jakarta.
Akshay mengatakan strategi tersebut juga diarahkan untuk menjangkau penonton muda, termasuk Gen Z dan komunitas digital. “Kami ingin membawa market baru untuk kembali menonton film ke bioskop. Surabaya, Malang, dan Ponorogo juga menjadi bagian dari upaya kami untuk menjangkau penonton baru, termasuk Gen Z dan komunitas,” tuturnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sebuah film kini tidak hanya bergantung pada promosi melalui media konvensional. Komunitas dan kedekatan dengan penonton juga menjadi bagian penting dalam membangun awareness sebelum film tayang.
Cerita berawal, Ketok Mejik mengikuti kehidupan Ben yang diperankan Ananta Rispo. Ia mewarisi bengkel milik sang kakek, tetapi harus menghadapi persoalan utang dan berbagai masalah yang muncul setelahnya. Ben kemudian berhadapan dengan karakter-karakter lain yang diperankan Tarra Budiman, Dodit Mulyanto, dan Arief Didu. Bengkel dalam film tersebut bukan sekadar latar cerita.
Tempat itu menjadi ruang pertemuan berbagai persoalan, mulai dari konflik keluarga, masalah ekonomi, hingga hubungan antarmanusia. Kombinasi drama dan komedi menjadi pendekatan yang digunakan Ketok Mejik untuk menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.





