Lewat “Minal Aidin Mohon Maaf Minta Rizki”, aktor, sutradara sekaligus produser Baim Wong menghadirkan hiburan yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Baginya, film ini menjadi tantangan baru sekaligus kesempatan untuk menyampaikan pesan moral melalui pendekatan komedi yang ringan dan menghibur.
Diproduksi oleh Tiger Wong Entertainment, film ini menjadi karya komedi pertama yang disutradarai Baim setelah sebelumnya sukses menggarap film bergenre horor, drama keluarga, dan thriller.
Dalam acara perkenalan proyek film tersebut, Baim mengaku puas dengan perkembangan persiapan produksi. Mulai dari proses reading, pemilihan lokasi, hingga jajaran pemain, seluruh tahapan dinilai berjalan sesuai harapan.
“Saya puas. Dari awal saya sudah melihat para cast yang luar biasa kuat. Setelah ikut melihat proses reading, hasilnya benar-benar membuat saya semakin yakin kalau film ini akan menjadi sesuatu yang spesial,” ujar Baim.
Menurutnya, setiap film yang ia sutradarai selalu memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Jika karya-karya sebelumnya banyak mengangkat nilai keluarga, kali ini ia memilih membahas isu sosial yang dinilainya cukup sensitif, namun relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Setiap film saya selalu ada pesan yang ingin saya sampaikan. Kalau dulu saya banyak berbicara soal keluarga karena saya ingin orang-orang merasakan pentingnya keluarga dan waktu bersama. Sekarang ada satu pembahasan yang menurut saya cukup berisiko, tetapi memang harus diangkat karena itu nyata terjadi di masyarakat,” jelasnya.
Proyek ini juga menjadi pengalaman berbeda bagi Baim. Jika sebelumnya ia selalu terlibat sebagai penulis cerita, kali ini ia mempercayakan pengembangan naskah kepada penulis muda Cassandra Mawardi.
Baim mengungkapkan bahwa naskah tersebut telah ditulis sejak 2024 dan bahkan pernah meraih penghargaan di Indonesia. Saat pertama kali membaca sekitar 35 adegan, ia langsung memutuskan untuk memproduksikannya.
“Saya langsung bilang, ‘Ini bagus sekali. Kenapa belum dibuat film?’ Awalnya saya sedang menyiapkan proyek lain, tetapi akhirnya saya batalkan karena merasa cerita ini jauh lebih menarik. Kontribusi saya di naskah mungkin hanya sekitar 10 persen. Selebihnya benar-benar karya Cassandra Mawardi,” ungkapnya.
Baim menyatakan ketertarikannya untuk mengangkat naskah tersebut ke layar lebar. “Saya tidak menyangka naskah yang saya kerjakan sejak 2024 akhirnya benar-benar akan diproduksi. Selama ini hanya menjadi file di komputer dan saya pikir mungkin tidak akan pernah ada yang membaca sampai selesai. Ternyata Mas Baim menjadi orang pertama yang membaca penuh dan langsung menyukainya,” tutur Cassandra.
Menghadirkan deretan pemain ternama, diperankan Prilly Latuconsina, Sarah Sechan, Lukman Sardi, Davina Karamoy, Ririn Dwi Ariyanti, Aming, Gita Bhebhita, Ria SW, Indra Birowo, Pak Muh, Erick Estrada, Hamish Daud. , Fadil Jaidi,, Alex Abbad, Dhawiya Zaida, serta sejumlah aktor dan aktris lainnya.
Syuting dijadwalkan berlangsung selama sekitar satu bulan dengan mengambil lokasi di Jakarta, kawasan Muara Angke, serta Bulukumba dan Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut Baim, pemilihan lokasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan nuansa visual yang segar sekaligus memperkuat cerita.
“Kalau terlalu terpaku pada skrip, kadang hasilnya justru tidak lucu. Komedi harus terasa natural. Dialog, ekspresi, sampai chemistry antarpemain harus benar-benar hidup. Itu tantangan terbesar dalam film ini,” jelasnya.



