Ujang Jaelani (50) berusaha mengumpulkan sisa-sia genteng, kayu-kayu bekas reruntuhan rumah akbat bencana pergerakan tanah (bukan gempa bumi teknonik tunggal) di dusun Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, pada yang terjadi pada 19 Feberuari 2026.

Meski sudah dua bulan berlalu kondisi dusun Cijambe masih porak poranda. Belum ada waraga yang berani kembali untuk membersihkan rumah-rumah mereka. Tak ada aktivitas dikampung itu.
Kediaman Ujang berada diposisi paling tinggi miring, pintu-pintu bergeser tak bisa ditudup. Rumah-rumah disekitar sudah rata dengan tanah .
Ujang sempat masuk, namun ia segera keluar, saat berada dalam rumah, ia merasakan ada getaran yang kecil. “ Kita diluar saja, masih ada getaran nanti membahayakan,”ucapnya. Sepupunya memilih membersihkan puing-puing yang berserakan.
Ujang kemudian menceritakan ada lima rumah keluarganya yang hancur. salah satu rumah yang hancur, belum satu tahun dibangun sudah rata dengan tanah. “ Ini rumah uwak, ini rumah ponakan, ini rumah sepupu belum satu tahun ditempati,” ucapnya.
Seluruh keluarga kini berada sudah berada di sebuah kontrakan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Masing keluarga diberi bantuan untuk menyewa rumah sebesar Rp.500 ribu setiap bulan, selama jangka waktu enam bulan.
Perasaa Ujang sedikit agak lebih tenang, anak dan istrinya sudah berada ditempat yang aman, sebelumnya mereka bertahan selama 3 minggu di pos pengungsian.
Uang menceritakan, tak ada warga yang berani memperbaiki rumahnya. Mereka harus pindah. Kampung itu sudah tak layak huni. Sebanyak 355 jiwa atau 112 kepala keluarga terpaksa mengungsi.
“ Sudah tidak ada harapan tinggal disini. Semuaa sudah hancur, entah bagaimana 10 tahun lagi masa dengan masa depan anak-anak saya,” keluhnya.
Sambil terus berjalan, Ujang menceritakan setiap jengkel tanah yang rusak. “ Ini kemaren patahannya cukup dalam, karena sudah sering hujan, kedalamannya sudah berkurang,” katanya.
Ujang menduga kemungkinan salah satu penyebab tanah dikampung tidak stabil disebabkan terjadi pengundulan hutan disekitarnya. Ujang menegaskan, jika pemerintah ingin merolakasi warga, sebaiaknya dilakukan secepatnya. “ Kita mau relokasi, tapi jangan terlalu lama menunggu,” harapnya.






