Cakraline.com- Jakarta – Film drama komedi Piye To Kih? produksi Miracle Pictures, menawarkan kisah cinta yang tidak biasa. Film ini sederhana, dengan cerita patah hati, persahabatan, hingga pertemuan dengan sosok dari alam berbeda. .

Film karya debutan sutradara Ito Mayin dan penulis Endik Koeswoyo, mengandang kreator Woko Channel, Piye To Kih? menghadirkan kisah Mukidi, seorang lelaki yang berusaha membuktikan bahwa dirinya layak menikahi perempuan yang dicintainya. Namun, berbagai upaya untuk memperbaiki hidup justru membawanya pada kejadian tak terduga
Dalam trailer yang diperkenalkan kepada publik, Mukidi digambarkan berjuang memperbaiki kondisi ekonomi hingga membeli rumah demi membuktikan keseriusannya. Alih-alih menemukan kehidupan yang lebih baik, rumah murah yang dibelinya justru mempertemukannya dengan Sukma, perempuan misterius yang berasal dari alam berbeda.
Hubungan tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan yang rumit. Selain terhalang perbedaan alam, Mukidi dan Sukma juga menghadapi perbedaan keyakinan yang menjadi salah satu persoalan dalam perjalanan cinta mereka.
Latar belakang keyakinan yang berbeda, melalui ungkapan, “Udah beda alam, beda agama pula… piye to kih?” Kehadiran Sukma (Dara Saravati) perlahan membuat Mukidi melibat kehidupan dari sudut pandang baru, sekaligus membawa masuk ke dalam hubungan yang penu persoalan. Hubungan itu makin rumit karena memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda.
Ito Mayin menjelaskan, persoalan sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari. “Yang ingin ditempelkan di film ini karena memang menunjukkan kisah yang cukup komplek. Jadi bayangkan seseorang menjalin hubungan romansa dengan seorang perempuan, berbeda alam, beda agama pula. Temboknya teal banget,,” ucap Ito Mayin.
Yang lebih penting adalah memantaskan diri. “Biasanya di zaman sekarang kita sering kali melupakan value yang kita punya, kemudian kita berusaha menjadi orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Padahal, satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan adalah memantaskan diri,” kata Ito.
Ito menjelaskan, ia sengaja mengangkat kearifan lokal dalam film pertamanya. Menurutnya, melibatkan Trip Woko, sebagai langkah berani. “ Kita coba angkat potensi-potensi dari daerah gitu. Mungkin secara bisnis orang akan melihat, “Ah serius nih, berani?” gitu ya. Nah, kita mencoba ada di posisi anomali itu. Sekarang orang punya kesempatan yang sama, mau yang didesa atau di mana pun, mereka adalah kreator-kreator daerah yang berkembang, muncul dari digital. Nah, teman-teman Trio Woko dan juga teman-teman yang lain termasuk Dara, ini adalah salah satu contoh mereka yang berhasil menembus industri lebih luas dari platform sosial media,’ katanya..
Ito menilai, masing-masing pemain sudah memiliki pengemar sendiri. “ Kenapa Trio Woko, saya melihat mereka itu punya kedekatan cerita dengan audiensnya, yang relate kira-kira gitu. Sampai akhirnya saya coba tawarkan untuk mau enggak kita kasih persembahan spesial untuk audiens atau untuk fans yang sudah menemani hari-harinya dari dulu sampaisekarang,” jelasnya.
Menurut Dara Sarsavati, bermain dengan Trio Woko sebuah momen yang tak akan bisa dilupakan. “ Karakter Sukma di sini itu mewakili perempuan enggak cuman remaja-remaja,
yaitu tentang bagaimana kita tuh perempuan sering kali mengorbankan tentang waktu, tentang cinta yang kita tawarkan secara tulus. Terus kemudian ada beberapa adegan-adegan komedi, tapi maknanya lebih dalam daripada sekadar komedi,” ujar Dara
Heri Candra pemeran Mukidi yang menjadi tokoh utama dalam film ini mengaku merasa mendapat kehormatan menjadi bagian dalam film ini. Yang pasti ia mengucapkan terima kasih pada Ito Mayin yang telah memberi kesempatan. “ Ketemu pemeran-pemeran kelas Jakarta, rasanya senang juga. Suatu kehormatan karena tadi diajak sama Mas Ito,” ucap Heri.
Sutrisno Agung (Gendut) menyambung, “Saya kan walaupun a orang Jawa terus ke Jakarta, ya agak-agak kagok terus takut. Terus di ronda itu kami selalu bermain tren kita selalu Woko Channel selalu menemani kita. Tiba-tiba Mas Ito, mengajak, “Ayo, ini Woko Channel mau dibikin film.” Nah, langsung kaget. Terus
ini mimpi atau belum? Kata saya, “Ayo.” Terus ketemu Pak No, ketemu Penyok, wahsenangnya,” ujarnya





