Oleh : Teguh Rahardjo
Yogyakarta – Gelombang ekonomi kreatif sering kali dipuja sebagai tulang punggung baru bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian sektor ekstraktif. Penulis mengamati bahwa narasi yang dibangun pemerintah dan pelaku industri kerap berfokus pada angka pertumbuhan yang fantastis dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB semata.

Namun di balik riuh rendah pencapaian valuasi startup dan viralnya produk lokal terdapat celah besar yang sering luput dari perhatian kita yaitu aspek keberlanjutan dan kualitas substansial. Penulis berpendapat bahwa mengejar pertumbuhan ekonomi kreatif tanpa mempedulikan daya dukung lingkungan dan kesejahteraan pekerjanya adalah sebuah bom waktu. Definisi berkualitas dalam ekonomi kreatif seharusnya tidak lagi sekadar bicara soal estetika atau kecanggihan teknologi melainkan bagaimana sektor ini mampu bertahan tanpa mengorbankan masa depan ekologis dan manusianya.
Data menunjukkan bahwa sektor ini memang menjanjikan secara kuantitas namun rapuh secara kualitas keberlanjutan. Merujuk pada Opus Creative Economy Outlook 2024 yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tercatat bahwa ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp1.300 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja.
Angka ini memang memukau penulis namun kita perlu kritis melihat sisi gelapnya. Sektor kriya dan fesyen misalnya merupakan penyumbang sampah terbesar kedua di dunia. Laporan dari United Nations Environment Programme atau UNEP menyoroti bahwa industri fesyen bertanggung jawab atas 10 persen emisi karbon global dan 20 persen limbah air dunia. Penulis melihat ironi di sini ketika kita bangga dengan ekspor wastra nusantara namun proses produksinya masih banyak yang belum ramah lingkungan dan justru mencemari sungai-sungai di sentra produksi batik atau tenun.
Penulis berargumen bahwa ekonomi kreatif yang berkualitas harus mengadopsi prinsip ekonomi sirkular secara radikal. Selama ini pola produksi kita masih linier yaitu ambil buat dan buang. Kita membutuhkan pergeseran paradigma menuju model desain regeneratif di mana limbah satu proses menjadi bahan baku proses lainnya. Penulis meyakini bahwa kualitas produk kreatif masa depan akan dinilai dari jejak karbonnya. Studi dari Ellen MacArthur Foundation menegaskan bahwa penerapan ekonomi sirkular dalam industri tekstil saja bisa menghemat miliaran dolar per tahun sekaligus mengurangi kerusakan lingkungan secara signifikan. Jika pelaku ekonomi kreatif Indonesia tidak segera beradaptasi dengan standar keberlanjutan global ini penulis khawatir produk kita akan kehilangan daya saing di pasar internasional yang semakin menuntut transparansi etis dan ekologis.
Selain isu lingkungan penulis juga menyoroti aspek keberlanjutan sumber daya manusia sebagai indikator kualitas yang sering diabaikan. Ekonomi kreatif sering kali mengagungkan hustle culture atau budaya kerja berlebihan yang merugikan kesehatan mental pekerja seni dan kreatif. Laporan Organisasi Buruh Internasional atau ILO mengenai Decent Work in the Creative Economy mengungkapkan bahwa pekerja kreatif rentan mengalami ketidakpastian pendapatan dan minim perlindungan sosial. Penulis menegaskan bahwa tidak ada ekonomi kreatif yang benar-benar berkualitas jika dibangun di atas keringat pekerja yang burnout dan dibayar murah. Keberlanjutan industri ini sangat bergantung pada kesejahteraan pelakunya. Jika kreatornya tumbang karena eksploitasi kerja maka inovasi akan mati dan kualitas karya pasti menurun.
Oleh karena itu penulis mendesak adanya redefinisi kesuksesan dalam peta jalan ekonomi kreatif nasional. Pemerintah perlu menyusun regulasi yang memberikan insentif nyata bagi pelaku usaha yang menerapkan prinsip keberlanjutan baik secara lingkungan maupun sosial. Penulis menyarankan agar hibah dan akses permodalan tidak hanya diberikan berdasarkan potensi viralitas atau keuntungan finansial tetapi juga berdasarkan audit jejak karbon dan standar pengupahan yang layak. Bagi penulis masa depan ekonomi kreatif Indonesia tidak terletak pada seberapa banyak konten yang kita produksi tetapi seberapa besar dampak positif yang bisa kita pertahankan untuk jangka panjang. Kita harus bergerak dari mentalitas fast creation menuju slow and sustainable creation demi mewujudkan ekonomi kreatif yang benar-benar berkualitas dan bermartabat.





