Oleh : Syamil Shafa Besayef
Yogyakarta – Ekonomi bukanlah suatu hal yang statis atau tetap namun ekonomi bergerak secara dinamis naik turun, berputar seperti roda dan terkadang kita menghadapi hal tersebut menggunakan prediksi futurologis atau melihat secara historis.

Dinamisnya ekonomi dapat dilihat secara historis dengan banyaknya krisis ekonomi yang ada baik secara global maupun dalam lingkup nasional. Awal abad ke 20 kita mengenal adanya depresi besar atau the great depression tahun 1930, kemudian krisis finansial Asia 1997-1998, krisis ekonomi 2008, serta krisis ekonomi akibat merebaknya Covid-19. Secara historis krisis ekonomimembentuk pola, dan di setiap krisis memiliki faktor dan dampaknya masing masing.
Ada yang disebabkan oleh permasalahan sektor keuangan, nilai tukar, pasokan energi menurun, konsumsi dan produksi tidak seimbang dan faktor lainnya.
Persoalan ekonomi juga bisa dilihat secara futurologis dengan menganalisis segala kondisi realita saat ini dan perubahan perubahan yang kemudian membentuk pola ekonomi di masa depan. Majunya perkembangan teknologi, masifnya kebutuhan dan konsumsi masyarakat, serta perubahan yang dinamis.
Hal ini berpengaruh dalam ekonomi walaupun dampak ekonomi tidak serta merta terjadi secara langsung, boleh jadi dampak tiu berlangsung di masa mendatang. Seperti halnya resesi atau penurunan aktivitas ekonomi yang cukup signifikan dan berlangsung lama oleh satu negara. Hal ini dapat memicu krisis ekonomi yang berdampak pada meningkatnya pengangguran, pendapatan masyarakat menurun, banyak usaha kecil bangkrut, dan memungkinkan munculnya instabilitas sosial.
Resesi bukanlah suatu hal yang bisa dihindari namun memitigasinya adalah hal yang paling masuk akal. Kompleksitas ekonomilah yang menyebabkan hal tersebut terjadi, proses mitigasi yang dilakukan haruslah adaptif, dan tidak berpaku pada sumber ekonomi konvensional seperti industri ekstraktif, industry produksi, serta industri lainnya.
Ekonomi kreatif menjadi salah satu alternatifnya. Ekonomi kreatif menekankan pada sumber daya kreatif yang tidak membutuhkan modal besar, dan berangkat dari lingkungan sosial terdekat. Konkritnya ekonomi kreatif seperti usaha kuliner, seni, media digital, konsultan dan jasa. Sektor ini memiliki kemampuan dan pangsa ekonomi yang unik, adaptif, dan reliable dalam berbagai kondisi.
Ekonomi kreatif dapat dijadikan alternatif dari sebuah krisis atau resesi walaupun tidak serta merta menjadi tumpuan, namun sektor ini menjadi shock absorber atau sebagai sabuk pengaman dari guncangan krisis. Dampak dari krisis seperti pengangguran, mininya pendapatan, dan kondisi sosial yang mencekam akibat krisis dapat dihindari dengan terbukanya lapangan kerja serta pendapatan yang kembali normal dari ekonomi kreatif ini.
Seperti halnya pada pandemi Covid-19 banyak usaha ekonomi konvensional yang tutup akibat pola konsumsi dan produksi yang tidak seimbang. Akan tetapi sektor kreatif seperti marketplace, jasa ridehailing, jasa melalui media digital seperti influencer, podcast, dan bentuk produk apapun yang dikemas secara digital lebih mendominasi pasar kala itu. Hal ini diakibatkan bergesernya perilaku masyarakat dari konvensional ke arah yang lebih digital dan efisien. Terkadang disrupsi ini memunculkan perdebatan dan dampak di sisi lainnya terutama pada pelaku ekonomi yang tidak adaptif.
Namun di sisi lain hal ini mendorong pola ekonomi baru yang menjadi sektor tumpuan selain dari sektor ekonomi konvensional,dimana sektor kreatif ini menjadi alternatif dalam menghadapi pola ekonomi yang tak terprediksi.
Secara luas ekonomi kreatif bisa menjadi pendorong bahkan tumpuan ekonomi Indonesia bukan hanya untuk menghadapi krisis atau resesi di masa depan, namun perlu langkah yang lebih jauh serta kerja sama antar berbagai pihak dengan baik. Adanya spekulasi resesi 2030 tidak bisa kita hiraukan namun kita bisa mematangkan mitigasi yang tepat dengan gagasan kreatif dan tidak terkotak pada ekonomi yang cenderung kuno





