Banyak cara orang tua mengajarkan pola hidup seserhana. Artis peran Tya Ariestya memberikan contoh sejak dini kedua anak laki-lakinya, Muhammad Kanaka Ratinggang (10) dan Muhammad Kalundra Ratinggang (7).

Tya bersama suami Irfan Ratinggang, juga mengajarkan anaknya untuk belajar berdagang sejak dini. Meski mampu membelikan, memenuhi semua kebutuhan anak, ia memilih menamamkan nilai kesederhanaan dan kemandirian.
Sebagai contoh sederhana, Tya mendukung putra sulungnya Kanaka, memulai usahanjasa painting casing HP dan tumbler. Tya menyebut, selain memberikan modal cuma-cuma, ia mengajarkan Kanaka menghitung biaya prosuksi.
” Aku ajarin dia belajar ngitung. ‘Kak, tadi beli pilox berapa? Oh 15 ribu, itu modal kamu’. Dari situ dia belajar, kalau jual jasa Rp.25 ribu ternyata enggak nutup modal, akhirnya dia naikkan jadi Rp.50 ribu. Aku pengen dia tahu mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak,” ucap Tya.
Dikatakan Tya, Kanaka meski masih berusia 10 tahun minatnya untuk berdagang sudah terlihat. Ia merasa senang melihat perkembangan tersebut. Hobi itu menjadi kesenangan bagi buah hatinya.
” Kanaka itu jasa painting casing HP, gitu. terus habis itu juga tumbler gitu jadi dia modal pakai pilox terus dia bikin. Nah jasanya itu dibayar awalnya 25.000,” ujar Tya.
Bagi Tya, itu adalah bentuk kreatif si anak. Ia melarangnya.” Iya jualan, coba kita bikin usaha nih biar dia kreatif. Jadi sebenarnya awalnya itu kan kita beli pilox dia pakai uang dia sendiri,” katanya.
Diungkap Tya, ia ingin anak-anak belajar mandiri sejak dini. Karena itu selalu mengajarkan cara berjualan yang baik. Mengajarkan cara berhitung yang benar, modalnya berapa, mencari selisih untung berapa.
Anak-anak menurut Tya perlu mencoba hal-hal yang baru. ” Nah dari situ aku ajarin juga, aku bikinin jadi aku ngebayar. Oh… jadi sebenarnya bukan bisnis buat dapat duit tapi lebih ke belajar ngitung nih. “Oh modalnya berapa terus bisa dapat berapa… berapa produk terus habis itu pengeluarannya berapa terus nanti dia akan decide keuntungannya berapa,” kata Tya.
Atlet Taekwondo itu melanjutkan, ” Dia akan ngembaliin lagi modal untuk beli lagi berapa.” Aku lebih ngajarin ke situ.”
Sebagai orang tua menurut Tya perlu melatih anak membedakan kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung untuk barang impian, merawat barang yang dimiliki, serta rutin berbagi dengan sesama.
” Aku tuh selalu kalau misalnya nih even aku pun ngasih jajan pun gitu. Nah aku tuh minta dia tuh bikin catatannya itu. Jadi hari ini uangnya dipakai buat jajan apa aja gitu. Biar tau biar kayak dilatih sedikit demi sedikit gitu. Biar lebih menghargai uang aja sih gitu. Jadi kayak jangan menganggap uang kayak gampang gimana-gimana jadi dia harus tahu gimana… mana yang perlu dikeluarkan mana yang tidak perlu” jelasnya.
Tya memgaku, tak malu mengajak anak-anak makan dipinggir jalan, jajanan murah.
Tya percaya bahwa kebahagiaan anak tidak selalu datang dari fasilitas mewah. Baru-baru ini, ia mengajak anaknya mencoba Gultik (Gulai Tikungan) di kawasan Mahakam yang harganya hanya Rp7.000 per porsi. Memori itu akan selalu di ingat anak.
” Dari awal juga aku tetap harus ajarin ya karena kan perjalanan hidup itu kan panjang ya jadi kalau enggak dipupuk dari kecil enggak bisa. Sebenarnya kan kalau dilihat sebenarnya Kanaka tuh apa-apa bisa gampang lah gitu tapi Kanaka tetap belajar sesederhana mungkin sama anak-anak,” ucapnya.
Hal lain yang mencuri perhatian adalah keputusan Tya membekali anaknya dengan ponsel jadul alias ponsel fitur yang hanya bisa untuk telepon dan SMS. Ponsel seharga Rp150 ribu itu diberikan karena Kanaka sering merasa takut jika harus terpisah sebentar dari orang tuanya di tempat umum. Uniknya, Kanaka sama sekali tidak minder.
” Alhamdulillah anak-anak aku enggak pernah minder dengan barang yang biasa-biasa aja. Jadi dia punya barang 150 ribu itu dia bangga. Dia bangganya gimana? Di belakangnya itu dicat sama dia, dikreasiin jadi menurut dia juga beda dari yang lain gitu,” tuturnya.
Ia selalu mengajarkan, menjadi pribadi yang bersyukur dalam keseharian tanpa sikap pamer atau berlebihan. Karena… kan ini enggak selamanya tuh bermewah-mewahan gitu. Kita juga harus bisa dan nanti juga punya teman juga kan enggak semua teman-temannya juga mungkin bisa berkelebihan seperti Kanaka alhamdulillah. Aku pengen dia bisa masuk ke semua kalangan. Jadi dari sekarang nih dia harus bisa makan di warteg,” tutup Tya.






