Cakraline.com. Butuh waktu lama bagi Efran Polce untuk bisa membangun kembali rumahnya yang hancur total akibat dihantam gempa bumi yang menguncang Flores, pada 15 Agustus 2026 . Keluarganya besarnya juga masih merasakan rasa trauma yang begitu mendalam.

“ Masih takut. Masih takut, setiap hari masih terjadi gempa susulan, jadi kami tetap memilih bertahan ditenda-tenda (pengungsi), “ ucap Efran Polce.
Keluarga besarnya mendirikan tiga tenda ukuran besar tak jauh dari puing-puing rumahnya yang sudah roboh. Pada tiap-tiap tenda dihuni 15 orang
Apa yang dialami Polce juga dialami ratusan warga desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Mangarai Timur, NTT. Setiap hari warga masih takur karena terjadi gempa susulan dalam waktu-waktu tertentu, sehinga menimbulkan trauma mendalam..
Diungkapkan Polce, kampungnya mengalami kerusakan paling parah 90 persen rumah-rumah mengalami kerusakan berat bahkan hancur total. “ Rumah kami sudah roboh,” katana.
Meski masih ada rumah keluarga besarnya yang terlihat dalam kondisi baik, namun tak satu pun yang berani untuk kembali kerumah. Sehingga warga memilih bertahan ditenda yang dibangunseara mandiri maupuan didirikan oleh Badan Nasional Penangulangan Bencana (NNPB).
Secara umum Olce mengambarkan, dipengungsin warga mengalami kesulitan bahan makanan dan air bersih. Meski bantuan sudah berdatangan luasnya lokasi terdampak serta banyak yang warga yang membutuhkan yang kesulitan, bantuan tersebut dirasakan kurang.
“ Kesulitan air bersih dan terbatasnya makanan. Bantuan yang datang tidak cukup karena banyak warga tetdampak disini,” jelasnya.
Warga belum ada yang berani ke ladang. Semua aktivitas terganggu. Polce mengaku, tidak tahu sampai kapan bertahan di tenda pengungsian. “ Mungkin dalam waktu yang lama, tiap hari masaih ad gempa, nggak bisa berbuat apa-apa. Rumah sudah tidak ada,” katanya.
Terlalu lama diberada ditenda, dia khawatir akan menganggu kesehatan anak-anak maupun para lansia. “ Takut Kesehataan mental anak-anak terganggu, ini perlu jadi perhatian,” katanya.
Ia meyebutkan tim kesehatan sudah berdatangan sudah mendirikan posko kesehatan. Melakukan pengobatan gratis.” Tim kesehatan sudah berkunjung mengadakan pengobatan gratis, “ ujarnya..
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan paa penyitas terus bertambah. Makana, air bersih, obat-obat-obat selimut hingga perlengkapan tidur menjadi kebutuhan mendesak. “ Terutama kebutuan beras dan air bersih,” tegasnya.
Saat gempa terjadi banyak warga yang terluka akibat tertimpa puing-puing rumah yang roboh. Dua osaat rang perempuan mengalami patah kaki, Novia Serena Wils dan Yolana Agrita Selis. Kedua saat sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
Satu orang atas nama Adrianus meninggal dunia saat gempa susulan terjadi, diduga karena syok. Pole menceritakan, gepa terjadi pukul 05.30 Wita, ia masih tertidur, sementaraistri dan anak-anak sudah bangun. Terbangun dikejutkan kuatnya goncangan gempa, mereka berlarian keluar rumah.
Penduduk desa kemudian berkumpul dipinggir jalan. Polce mengumpulkan semua keluarga dn meminta mereka untuk tetap tetang. Menurut Polce keluarganya tak kuasa menahan tanggis ketika melihat sudah roboh. “ Cepat sekali, keluar rumah, lari, rumah roboh,” ucapnya.





