Cakraline.com. JAKARTA — CAS production kembali merilis fil kedua berjudul Last Witness. Film yang dibintangi Yama Carlos dan Catherine Wilson, tidak hanya diarahkan sebagai tontonan di platform digital. Proyek tersebut diposisikan sebagai bagian dari proses panjang untuk mematangkan karya sekaligus mengasah kemampuan para pemain sebelum nantinya melangkah ke layar lebar.

Hal itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Sabtu (5/9/2026) di sebuah kafe di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Film kedua ini hadir dengan pendekatan berbeda dibandingkan produksi sebelumnya yang mengusung genre horor. Kali ini, cerita lebih banyak mengeksplorasi konflik keluarga, luka masa lalu, dan persoalan balas dendam yang menjadi penggerak cerita.
Meski masih ditayangkan melalui YouTube, tim produksi menyebut platform digital menjadi bagian dari tahapan untuk mengukur kemampuan sekaligus respons penonton.
“Ini masih tahap pembelajaran. Kita ingin mereka mengevaluasi apa yang sudah mereka lakukan, mengoreksi kekurangan masing-masing, supaya ketika nanti disiapkan untuk yang lebih besar lagi, mereka bisa memberikan yang terbaik,” ujar perwakilan tim produksi.
Menurutnya, proses tersebut penting terutama bagi para pemain muda dan pendatang baru. Mereka mendapatkan kesempatan untuk berhadapan langsung dengan pemain yang lebih berpengalaman sehingga dapat belajar mengenai pendalaman karakter dan proses kerja di lokasi syuting.
Sejumlah aktor berpengalaman seperti Yama Carlos dan Catherine Wilson turut terlibat dalam produksi ini. Kehadiran mereka menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus memberikan warna tersendiri terhadap film.
Selain Yama Carlos sebagai Pak Dharmo dan Catherine Wilson sebagai Bu Rini, film ini juga menghadirkan Tsani Prillia sebagai Naya/Nara, Kefan Sj sebagai Raka, Musa Zulfikar sebagai Adit, Dewanti sebagai Tari, Rumyrach sebagai Kirana, Taufik Hidayat sebagai Dion, serta Fadli sebagai Faris.
Tim produksi juga sengaja mempertahankan karakter pemain agar tidak terlalu jauh dari kepribadian mereka sehari-hari. Pendekatan natural tersebut dinilai membantu pemain beradaptasi dengan peran, terutama bagi mereka yang masih minim pengalaman akting.
Produksi film kedua ini sekaligus menjadi tolok ukur sebelum tim melangkah ke proyek berikutnya. Setelah mengawali perjalanan dengan genre horor, mereka kini mencoba mengeksplorasi cerita yang lebih menekankan konflik dan karakter.
“Kita memang ingin mereka lebih siap. Jadi ketika waktunya sudah tepat dan masuk ke layar lebar, mereka sudah mempunyai pengalaman dan lebih matang,” lanjutnya.
Tidak menutup kemungkinan, produksi selanjutnya akan kembali mengeksplorasi genre berbeda, termasuk drama. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari rencana tim untuk membangun kemampuan para pemain sekaligus memperluas skala produksi.
Dengan strategi tersebut, YouTube tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Platform digital justru menjadi ruang bagi tim produksi dan para pemain untuk belajar, melakukan evaluasi, serta membangun kesiapan sebelum membawa karya ke layar lebar
.






