Cakraline.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat upaya menarik lebih banyak wisatawan mancanegara asal India sekaligus memperluas pilihan destinasi mereka di Indonesia melalui kegiatan Familiarization Trip (Fam Trip) bagi _travel agent_ dan _tour operator_ (TA/TO).

Peserta dibagi menjadi dua grup dengan rute berbeda. Grup A mengeksplorasi Yogyakarta dan Bali, sedangkan Grup B mengunjungi Lombok dan Bali. Kedua grup kemudian bertemu di Bali untuk bersama-sama mengeksplorasi sejumlah daya tarik wisata di Pulau Dewata.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Cakraline.com, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini di Jakarta, Kamis (3/8/2026), mengatakan Fam Trip menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan keragaman destinasi Indonesia kepada pelaku industri perjalanan India, terutama Yogyakarta dan Lombok yang berpotensi dikembangkan sebagai pilihan perjalanan selain Bali.
“Melalui program Fam Trip ini, diharapkan semakin banyak agen perjalanan India yang menyusun dan memasarkan paket wisata ke Yogyakarta dan Lombok. Kedua destinasi tersebut memiliki potensi untuk dikombinasikan dengan Bali yang sudah lebih dahulu menjadi salah satu destinasi utama pilihan wisatawan India,” ujar Ni Made Ayu Marthini.
Peserta Grup A yang terdiri atas Shree Corp, Thomas Cook (India) Limited, dan Wayfarers Hub diajak merasakan pengalaman perjalanan menuju Yogyakarta menggunakan Kereta Panoramic. Perjalanan tersebut tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga memberikan pengalaman menikmati pemandangan dan lanskap melalui jendela kaca berukuran besar.
Di Yogyakarta, peserta mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai dua ikon warisan budaya dunia. Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana Ballet pada malam hari.
Pelaku industri pariwisata India yang mengikuti program tersebut, Yogyakarta dinilai memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan India, khususnya segmen keluarga, wisatawan senior, wisatawan dengan minat terhadap budaya dan spiritual, serta kelompok MICE.
Kekayaan warisan budaya, candi, sejarah kerajaan, seni, serta pengalaman autentik masyarakat lokal dinilai relevan dengan karakter pasar India. Kedekatan historis dan budaya antara Indonesia dan India, khususnya melalui warisan Hindu-Buddha serta kisah Ramayana, juga membuka peluang untuk memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata warisan budaya dan spiritual.
Yogyakarta menjadi daya tarik pasar India, antara lain konektivitas, ketersediaan pilihan kuliner yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan India, paket perjalanan keluarga, serta produk wisata budaya, edukasi, dan MICE.
Pengalaman budaya peserta dilengkapi dengan workshop pembuatan jamu tradisional di Jogjamu dan kunjungan ke situs Taman Sari. Rangkaian aktivitas tersebut dirancang untuk membuka peluang pengembangan sekaligus memperkaya _storytelling_ produk wisata kebugaran (_wellness_) dan budaya yang relevan bagi pasar India.
Grup B yang terdiri atas Flag Holidays, S V Holiday Bazaar Private Limited, dan SOTC Travel Limited mendapatkan pengalaman mengeksplorasi Gili Trawangan dan kawasan Kuta Mandalika di Lombok.
Perjalanan menuju Gili Trawangan dilakukan menggunakan fast boat dari Pelabuhan Padang Bai, Bali. Di Gili Trawangan, peserta menginap dan menikmati beragam aktivitas, antara lain _snorkeling_, berkeliling pulau menggunakan _e-bike_, menikmati suasana malam, serta mencoba cidomo, alat transportasi tradisional beroda yang ditarik kuda dan menjadi salah satu ciri khas Lombok dan Kepulauan Gili.
Gili Trawangan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi bagi wisatawan India, khususnya segmen wisatawan muda berusia 25–45 tahun dan mereka yang melakukan perjalanan bersama teman.
Aktivitas _snorkeling_ untuk melihat penyu, bersepeda mengelilingi pulau, menikmati matahari terbenam, serta berbagai pengalaman yang menarik untuk dibagikan melalui media sosial turut menjadi daya tarik Gili Trawangan. Ketersediaan pilihan kuliner vegetarian yang memadai, baik melalui restoran maupun menu yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan, menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat untuk mengoptimalkan potensinya di pasar India.
Selama berada di Lombok, peserta juga mengunjungi sejumlah daya tarik wisata lainnya, antara lain Desa Adat Sade, Taman Mayura, serta Masjid Raya Hubbul Wathan atau Islamic Center Nusa Tenggara Barat yang terletak di pusat Kota Mataram
.
Di Bali menikmati ritual melukat di Pura Tirta Empul, menikmati atraksi Bali Swing di Uma Ceking Resto and Swing, serta berbelanja di Krisna Oleh-Oleh Bali.
Yogyakarta dan Lombok Destinasi Alternatif Wisatawan India
Cakraline.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkuat upaya menarik lebih banyak wisatawan mancanegara asal India sekaligus memperluas pilihan destinasi mereka di Indonesia melalui kegiatan Familiarization Trip (Fam Trip) bagi _travel agent_ dan _tour operator_ (TA/TO).
Peserta dibagi menjadi dua grup dengan rute berbeda. Grup A mengeksplorasi Yogyakarta dan Bali, sedangkan Grup B mengunjungi Lombok dan Bali. Kedua grup kemudian bertemu di Bali untuk bersama-sama mengeksplorasi sejumlah daya tarik wisata di Pulau Dewata.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini di Jakarta, Kamis (3/8/2026), mengatakan Fam Trip menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan keragaman destinasi Indonesia kepada pelaku industri perjalanan India, terutama Yogyakarta dan Lombok yang berpotensi dikembangkan sebagai pilihan perjalanan selain Bali.
“Melalui program Fam Trip ini, diharapkan semakin banyak agen perjalanan India yang menyusun dan memasarkan paket wisata ke Yogyakarta dan Lombok. Kedua destinasi tersebut memiliki potensi untuk dikombinasikan dengan Bali yang sudah lebih dahulu menjadi salah satu destinasi utama pilihan wisatawan India,” ujar Ni Made Ayu Marthini.
Peserta Grup A yang terdiri atas Shree Corp, Thomas Cook (India) Limited, dan Wayfarers Hub diajak merasakan pengalaman perjalanan menuju Yogyakarta menggunakan Kereta Panoramic. Perjalanan tersebut tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga memberikan pengalaman menikmati pemandangan dan lanskap melalui jendela kaca berukuran besar.
Di Yogyakarta, peserta mengunjungi Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai dua ikon warisan budaya dunia. Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana Ballet pada malam hari.
Pelaku industri pariwisata India yang mengikuti program tersebut, Yogyakarta dinilai memiliki potensi kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan India, khususnya segmen keluarga, wisatawan senior, wisatawan dengan minat terhadap budaya dan spiritual, serta kelompok MICE.
Kekayaan warisan budaya, candi, sejarah kerajaan, seni, serta pengalaman autentik masyarakat lokal dinilai relevan dengan karakter pasar India. Kedekatan historis dan budaya antara Indonesia dan India, khususnya melalui warisan Hindu-Buddha serta kisah Ramayana, juga membuka peluang untuk memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi wisata warisan budaya dan spiritual.
Yogyakarta menjadi daya tarik pasar India, antara lain konektivitas, ketersediaan pilihan kuliner yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan India, paket perjalanan keluarga, serta produk wisata budaya, edukasi, dan MICE.
Pengalaman budaya peserta dilengkapi dengan workshop pembuatan jamu tradisional di Jogjamu dan kunjungan ke situs Taman Sari. Rangkaian aktivitas tersebut dirancang untuk membuka peluang pengembangan sekaligus memperkaya _storytelling_ produk wisata kebugaran (_wellness_) dan budaya yang relevan bagi pasar India.
Grup B yang terdiri atas Flag Holidays, S V Holiday Bazaar Private Limited, dan SOTC Travel Limited mendapatkan pengalaman mengeksplorasi Gili Trawangan dan kawasan Kuta Mandalika di Lombok.
Perjalanan menuju Gili Trawangan dilakukan menggunakan fast boat dari Pelabuhan Padang Bai, Bali. Di Gili Trawangan, peserta menginap dan menikmati beragam aktivitas, antara lain _snorkeling_, berkeliling pulau menggunakan _e-bike_, menikmati suasana malam, serta mencoba cidomo, alat transportasi tradisional beroda yang ditarik kuda dan menjadi salah satu ciri khas Lombok dan Kepulauan Gili.
Gili Trawangan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi bagi wisatawan India, khususnya segmen wisatawan muda berusia 25–45 tahun dan mereka yang melakukan perjalanan bersama teman.
Aktivitas _snorkeling_ untuk melihat penyu, bersepeda mengelilingi pulau, menikmati matahari terbenam, serta berbagai pengalaman yang menarik untuk dibagikan melalui media sosial turut menjadi daya tarik Gili Trawangan. Ketersediaan pilihan kuliner vegetarian yang memadai, baik melalui restoran maupun menu yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan, menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat untuk mengoptimalkan potensinya di pasar India.
Selama berada di Lombok, peserta juga mengunjungi sejumlah daya tarik wisata lainnya, antara lain Desa Adat Sade, Taman Mayura, serta Masjid Raya Hubbul Wathan atau Islamic Center Nusa Tenggara Barat yang terletak di pusat Kota Mataram
.
Di Bali menikmati ritual melukat di Pura Tirta Empul, menikmati atraksi Bali Swing di Uma Ceking Resto and Swing, serta berbelanja di Krisna Oleh-Oleh Bali.





