Film Dan Bandung, yang diadaptasi dari novel terbaru karya Pidi Baiq, dirilis Verona Filmdi Plaza Senayan XXI, Jakarta. Berbeda dengan semesta Dilan yang berfokus pada kisah cinta masa SMA, Dan Bandung menawarkan romansa yang lebih matang dengan latar kehidupan mahasiswa, persahabatan, konflik keluarga, hingga pencarian jati diri.
Disutradarai Rudi Soedjarwo, sineas di balik kesuksesan Ada Apa Dengan Cinta?, serta diproduseri Titin Suryani di bawah rumah produksi Verona Films.
Produser Eksekutif Bedy Kunady mengungkapkan alasan dirinya mantap mengangkat novel tersebut ke layar lebar. Selain karena kualitas ceritanya, novel itu juga membangkitkan kenangan pribadinya sebagai alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), sama seperti Pidi Baiq.
“Begitu mendengar ceritanya, saya langsung teringat masa kuliah di Bandung. Semua lokasi yang disebutkan, mulai Tamansari, Dago, Ciumbuleuit sampai Jalan Asia Afrika, membawa saya kembali ke masa puluhan tahun lalu. Saya juga ingat naik Kereta Parahyangan Jakarta-Bandung saat masih kuliah. Film ini terasa sangat personal,” kata Bedy.
Menurut dia, nuansa nostalgia itulah yang membuat Dan Bandung memiliki daya tarik berbeda dibanding film remaja pada umumnya.
Romansa
Produser Titin Suryani mengatakan sejak awal dirinya melihat Dan Bandung sebagai cerita yang memiliki karakter berbeda dibanding karya Pidi Baiq sebelumnya.
Ia menilai konflik yang dihadirkan lebih dekat dengan kehidupan anak muda yang mulai memasuki fase dewasa.
“Kalau Dilan berbicara tentang cinta di masa SMA, Dan Bandung berbicara tentang kehidupan setelahnya. Tokoh-tokohnya sudah kuliah, sehingga persoalan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks, mulai dari keluarga, persahabatan, masa depan hingga cinta,” ujar Titin.
Ia mengaku sempat berdiskusi panjang dengan Pidi Baiq mengenai filosofi judul novel tersebut. Menurut Titin, Bandung dalam cerita bukan sekadar latar geografis. “Bandung menjadi simbol tempat seseorang meninggalkan hati, kenangan, kesepian, hingga perjalanan cintanya. Itulah yang membuat cerita ini terasa begitu emosional.”
Bagi sutradara Rudi Soedjarwo, mengadaptasi karya Pidi Baiq menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku memikul tanggung jawab besar untuk menerjemahkan novel tersebut ke dalam bahasa visual tanpa menghilangkan ruh cerita.
“Saya merasa seperti memegang bayi milik Pidi Baiq. Ketika karya itu sudah dipercayakan kepada saya, maka menjadi tanggung jawab saya untuk merawatnya sebaik mungkin agar lahir menjadi film yang juga dicintai penonton,” ujar Rudi.
Karena itu, proses pemilihan pemain dilakukan dengan sangat hati-hati. Menurutnya, kualitas akting saja tidak cukup.
“Semua aktor bisa saja hebat, tetapi belum tentu memiliki chemistry yang tepat. Kami mencari kombinasi pemain yang benar-benar bisa menghidupkan hubungan antarkarakter.”
Rudi juga menyebut Dan Bandung menjadi salah satu film paling personal yang pernah ia garap. “Film ini mungkin tidak akan bisa saya buat ketika masih muda. Sekarang saya lebih memahami arti keluarga, kehilangan, cinta, dan kenyataan hidup. Semua pengalaman itu saya bawa ke dalam film ini.”
Penyanyi Shanna Shannon berperan sebagai Elma. Ia mengaku tidak terlalu kesulitan memahami kepribadian tokoh tersebut karena memiliki banyak kesamaan.
“Elma itu introvert, pendiam dan pemalu. Secara karakter sangat dekat dengan diri saya. Tantangan terbesar justru bagaimana menyampaikan konflik emosional yang dialami Elma sepanjang film.”
Menurut Shanna, seluruh pemain menjalani workshop selama satu bulan sebelum syuting dimulai. Proses tersebut membuat hubungan antarpemain menjadi lebih alami sehingga chemistry yang muncul di layar terasa lebih kuat.
Ketika ditanya mengenai makna cinta bagi Elma, Shanna menjawab singkat. “Bagi Elma, cinta adalah tempat yang nyaman untuk pulang.”





