Mengangkat latar dunia aviasi yang jarang dieksplor secara emosional, Penerbangan Terakhir, tak sekadar menyuguhkan konflik profesional, tetapi juga menyentuh isu personal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi perempuan yang kerap menjadi korban manipulasi dalam hubungan.

Di bintang Jerome Kurnia, Nadya Arina, dan Aghni Haque, film ini berfokus pada karakter Tiara (Nadya Arina), seorang pramugari baru yang masih polos dalam urusan cinta. Pertemuannya dengan Kapten Deva (Jerome Kurnia), pilot muda berparas menarik dan penuh pesona, perlahan menyeret Tiara ke dalam hubungan yang manipulatif.
Dengan kharisma dan pujian berlebihan, Kapten Deva digambarkan sebagai sosok “ganteng-ganteng manipulatif” yang menjerat banyak perempuan, menjadikan Tiara salah satu korbannya. Dari titik terendah itulah, film ini menyoroti perjuangan Tiara untuk bangkit dan merebut kembali kendali atas hidupnya.
Film karya sutradara Benni Setiawan, memadukan drama psikologis, isu sosial, dan ketegangan relasi personal dalam satu narasi yang relevan.
Nadya Arina mengatakan, kekuatan film ini terletak pada ceritanya yang sangat membumi dan mudah dikenali penonton.
“Meski latar belakang dunia di film ini adalah dunia penerbangan, tetapi secara cerita dan dinamika karakter akan banyak relate ke penonton. Karena cerita yang dialami Tiara itu bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa saja. Ini sering terjadi di sekitar kita,” ujar Nadya.
Pesan yang ingin disampaikan film ini kepada penonton perempuan. “Kalau ada laki-laki yang sudah kasih pujian berlebihan, nah itu sudah waktunya untuk mundur perlahan. Jangan sampai nantinya terjebak di hubungan yang manipulatif,” ungkapnya
Jerome Kurnia mengaku perannya sebagai Kapten Deva menjadi salah satu karakter paling kompleks yang pernah ia mainkan. Naik-turun emosi dan konflik batin menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam adegan konfrontasi dengan Tiara.
“Ada satu adegan pertengkaran antara Deva dan Tiara, di mana Deva ingin mengambil kembali cinta Tiara. Di situ emosinya naik turun dan susah sekali. Karena emosinya sulit, kamera angle-nya juga susah,” ungkap Jerome.





