Cakraline.com. Jakarta – Kemunculan artis sinetron Lidya Pratiwi yang kini sudah berganti nama menjadi Maria Eleanor cukup mencuri perhatian masyarakat. Lidya menjalani pembebasan bersayat sejak tahun lalu, ia menjalani separuh masa tahanan dari 14 tahun vonis yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Kembali ke masyarakat Lidya berharap semua orang bisa menerima kehadirannya. Lidya berusaha melupakan masa lalunya. Ia berencana kembali merintis karir didunia sinetron yang telah membesarkan namanya. Berikut wawancara Cakraline.com dengan Lidya beberapa waktu lalu.
Bebas bersyarat 2017, kemana selama tujuh tahun ini, sembunyi dimana ?
Lidya : Lama ya, tujuh tahun itu kemana ya, menjalani kehidupan normal senormal-normalnya. Kegiatan masih minim, kenapa aku benar-benar menjaga kegiatan diluar enggak terlalu banyak, masih menghargai proses hukum, biar selesai sampai habis. Aku menjaga menjaga proess hukum yang masih berjalan.
Kamu menjalani berapa lama ?
Lidya : Tujuh tahun, ada remisi dan pembebasan bersyarat.
Apa yang pikirkan saat dapat pembebasan bersyarat ?
Lidya : Senang,senang banget. Khawatirnya masih banyak. Aduh mau ngapain nih. Mau ngapain diluar ? Bagaimana memulai. Di hari pertama ngapain habis itu. Kalau disana semua sudah ke program. Ada banyak kegiatan. Sampai dirumah mau ngapaian ya. Bingung.
Bagaimana mengembalikan rasa percaya diri meski sudah tujuh tahun menghirup udara bebas ?
Lidya : Itu sih karena ada dukungan dari orang yang benar kenal aku. Pelan-pelan mereka membangunkan keyakinan aku, bahawa orang-orang akan bisa menerima. Biar bagaiamanpun posisi aku kan enggak seperti yang diberitakan pada umumnya. Cepat atau lembat ornag akan tahu bagaimana.
Mengembalikan kepercayaan diri itu memang sulit untuk keluar, bingung ya, berjalan waktu pelan –pelan lebih baik, lebih baik. Lebih berani ketemu orang. Ketakutan aku dua, pertama, aku dikhianatin oraNg lagi. Kedua takut masih ada tuduhan yang tidak sesuai.
Bagaimana mengatasai rasa takut itu ?
Lidya : berdoa, ngak ada lain. Berada dalam lingkungan yang baik baik saja, mendukung, semua positif. Mereka juga mensugesti aku berani menghadapi dunia luar.
Saat pertama menginjak dunia luar apa yang kamu lakukan ?
Lidya : Apa ya,sujud syukur sebetulnya, jujur saja bingung mau ngapaian. Harus bagaimana ya,memulia apa, darimana. Aku hubungin teman-teman sekolah yang setia, mereka enggak berubah sedikitpun. Begitu juga keluaga mereka, semua baik.
Punya banyak teman ?
Lidya : Ada dua kelompok semua teman SMP. Mereka tetap yakin sosok aku yang dulu mereka kenal tetap seperti dulu. Mereka juga sering mengunjungi aku. Mereka pemberi semangat aku.
Selama tujuh tahun pindah rumah berapa kali ?
Lidya : Ngak pindah, tetap di Jakarta. Masih hati-hati dalam beraktifitas dan bergaul. Itu masa pemulihan aku. Banyak yang dicemasin, harus berjalan kearah mana ya, pekerjaan bagaiamna, pergaulan seperti apa ?
Berapa lama kamu bisa benar-benar punya rasa percaya diri lagi ?
Lidya : Hampiir tujuh sampai hari ini masih berproses bahwa orang-orang luar masih ada yang bisa aku percaya.
Sempat konseling dengan orang tertentu ?
Lidya : Ada, sampai sekarang masih. Motivasi mereka, meyakinkan orang diluar akan dengan sendirinya akan mengetahui keadaan sebenarnya. Akan bisa mengenal lebih mengenal sosok aku seperti apa. Aku harus lebih berani membuka diri.
Hidup aku nggak bisa berhenti begitu saja, jadi pelan-pelan ok, keyakinan keyakinan yang diberikan orang-ornag terdekat semuanya aku serap. Aku coba, selama aku berjalan hati-hati nggak mungkin kena lingkungan enggak baik lagi.
Masih Trauma ?
Lidya : Masih sangat, coba dibayangi saja, maksudnya, kehidupan masa remaja harus berhenti seperti itu. Tiba-tiba semua terbalik, tak ada orang yang akan mencoba hidup seperti itu. Enggak ada. Trauma , trauma pada orang yang baru dikenal. Hati-hati banget, takut., trauma juga bagaimana nanti orang-orang menerima.
Iya, lihat saja pemberitaan mengarah ke aku sendiri, padahal sebenarnya tidak begitu. Kalau saja pemberitaan berimbang, masih ok, hanya saja mengarah ke aku.
Jujur mungkin karena aku membatasi kegiatan jadi enggak ketakutan 100 persen enggak terbukti. Walaupun ada juga ketakutan itu. Misalnya, ada yang ngomong. ‘ Oo ini mirip ini ya. Bla bla, “ kan nggak nyaman. Orang cuma melihat luar, jadi bulan-bulan.
Kalau begitu apa yang kamu lakukan ?
Lidya : Diam. Aku tak perlu membuat berita lagi, sudah lelah mengalami 14 tahun ini, sudah capek. Melepaskan diri masalah, aku menghindari lingkungan dimana aku tersakiti. Aku harus keluar. Aku menghindar, tidak berkomunikasi dengan keluarga.
Hidup sendiri ?
Lidya : Ya dengan lingkungan baru.
Bagaimana dengan biaya hidup kamu ?
Lidya : Oo itu nggak usah dibahas. Yang pasti bukan jadi perempuan yang aneh-aneh. Ada yang percaya ngasih aku pekerjaan. Aku kerja, disebuah kantor pengacara, aku belajar hukum. Aku punya penghasilan. Dan selebihnya dipelihara sama yang diatas, buktinya aku sehat.
Enggak yang berubah dari dulu ?
Lidya : Karena nggak ada operasi-operasian. Masih asli haaaa
Dengan usia 33 apa yang ingin kamu bangun sekarang ?
Lidya : Banyak, mengembalikan yang hilang. Aku minta dukungan teman-teman agar kembali paling. Bisa enggak kembaki ke dunia entertaimant.
Aku enggak pernah membayangkan hidup seperti ini. Pada saat itu aku lagi kerja baik-baik saja, jadwal syuting padat. Ada dua sinetron saat itu, waktu hanya dilokasi syuting tidak ditempat lain. Tiba-tiba semua hilang.
Kadang-kadang kamu merasa seperti bersalah engak sih ?
Lidya : Aku nggak mau jawab itu. Memberatkan untuk dijawab.
Apa pengalaman selama dalam penjara ?
Lidya : Pengalaman di asrama itu nano-nano ha..ha..
Kan disana semua silih berganti, teman-teman maupun petugas silih berganti. Adaptasi yang tak pernah selesai. Saat sudah merasa nyaman dengan lingkungan ini, terjadi perubahan. Adaptasi yang enggak berhenti-henti. Seram secara mental. Saking putus asanya, aku nggak lagi berpikir sudah berapa tahun dan sampai berapa tahun lagi disini. Sudah saja, pengen mati.
Kamu sempat mau bunuh diri, apa yang membuat kamu bisa bertahan ?
Lidya : sempat-sempat kepikiran itu, bukan satu dua kali. Itu masa-masa depresi yang enggak berkesudahan. Periodenya, aku sudah nggak ingat kapan, pasti setelah masa inkrah. Selama sidang aku masih bisa melihat dunia luar, bolak penjara dan pengadilan.
Pikiran itu (mau bunuh diri) muncul setelah putusan sidang. Ternyata tuhan merencanakan lain, tidak seperti itu. Jadi aku juga kembali berserah diri, percaya, ada hari esok, aku masih punya kesempatan menjalankan yang lain.