Sutradara Irham Acho Bahtiar kembali mengangkat kearifan local dalam film terbarunya berjudul Lintrik Ilmu Pemikat, produksi Prama Gatra Film bersama Rumah Semut Film. Sineas asal Tolaki ini sukses membuat Melody Kota Rusa, kemudian Lost In Papua, Epen Cupen, Security Ugal Ugalan dan Coto vs Kontro.

Ada yang menarik di Lintrik bukan film horor konvensional. “Kami lebih menekankan sisi thriller dan misteri. Ada darah, ada ketegangan, tapi bukan sekadar jump scare. Unsur mistis yang muncul hanya sebagai bagian dari cerita Lintrik, bukan untuk menakut-nakuti,” ungkap Irham Acho Bahtiar dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/8).
Film ini tayang 11 September, mengusung genre horor psikologis, film ini mencoba menawarkan warna baru di tengah dominasi horor hantu-hantuan yang marak di layar lebar nasional. “Horor yang berbeda,” jelasnya.
Film ini diadaptasi dari film pendek Lintrik – Janakim Series karya komunitas film Banyuwangi filmtersebut dan mengajak para pembuat aslinya terlibat langsung, baik dalam produksi maupun sebagai konsultan budaya.
Dalam budaya Jawa, Lintrik dikenal sebagai ilmu pengasihan atau pelet kuno yang hanya bisa dijalankan oleh perempuan dengan ritual khusus. Tokoh utama film, Sari, berusaha merebut cinta pertamanya menggunakan ilmu ini, namun terjebak dalam konspirasi besar yang mengungkap sisi gelap kekuasaan dan kepercayaan.
Proses produksi berlangsung hampir sebulan di Jakarta dan Banyuwangi. Salah satu lokasi utama adalah Hutan Jati De Djawatan yang sebelumnya jarang dipakai syuting. Di tempat ini, kru mengalami gangguan berulang berupa hujan tiba-tiba setiap kali kamera siap merekam.
Kejadian mistis itu cukup menganggu jadwal suting. “Dari pagi sampai sore, lebih dari 20 sampai 30 kali hujan turun begitu kami bersiap take. Tiga hari berturut-turut kejadian itu terjadi,” ujar Irham.
Kondisi tersebut membuat jadwal mundur dan sebagian naskah terpaksa diubah, termasuk pengambilan adegan aksi kamera yang lebih terbatas. Diceritakan, hujan baru berhenti setelah tim melakukan ritual sederhana yang disarankan warga sekitar. “Setelah itu, baru benar-benar tidak turun hujan lagi. Saya pribadi bukan orang yang percaya hal-hal gaib, tapi apa yang kami alami memang nyata,” katanya.
Film ini melibatkan seniman Banyuwangi, di antaranya maestro tari Gandrung Mak Temu Misti dan seniman Mas Yon DD, serta menampilkan bahasa Osing. Pemerintah Daerah Banyuwangi turut mendukung syuting di sejumlah lokasi ikonik, termasuk Festival Banyuwangi.
Dibintangi oleh aktor Donny Damara, Yatti Surachman, Meisya Amira, Karina Icha, Akbar Nasdar, Fannita Posumah, Teguh Ryder dan Peter El. Produser Asye menambahkan, film ini tidak hanya soal horor. “Kami ingin penonton sadar bahwa praktik seperti ini masih dipercaya sebagian orang. Ada juga pesan tentang kewaspadaan terhadap orang yang menggunakan kedok agama demi kepentingan pribadi,” ujarnya. *
Lintrik adalah sejenis ilmu pelet atau pengasihan Jawa kuno yang memiliki efek cepat dan sangat kuat bahkan bisa menarik korbannya meskipun berada di luar negeri, namun bersifat hanya sementara.
Penulisan skenario berjalan hingga di pertengahan tahun 2023 lalu syuting mulai di lakukan langsung di sebagian Jakarta dan lebih banyak di Banyuwangi.





