Cakraline.com. Jakarta– Jangan pernah takut melakukan hal yang baru. Setidaknya prinsip itu yang dijalani Cleopatra , seorang figur publik yang dikenal dengan perjalanan hidupnya yang penuh liku, kini menceritakan kisah hijrahnya yang menginspirasi.

Di temui daerah Tebet, Cleopatra mengungkapkan bagaimana perjalanan spiritualnya dimulai dari masa kecil yang sulit ketika tidak diakui oleh Ibu kandungnya dan menjalani getirnya kehidupan hingga menemukan kedamaian dalam Islam dan bimbingan sosok seorang Habib.
Awal Mula Perjalanan Spiritual Cleopatra bercerita tentang latar belakang yang kompleks. Ia dibesarkan oleh keluarga non-Muslim yang taat, namun kemudian memilih untuk mengubah keyakinannya ke Islam setelah bertemu dengan ibu kandungnya.
“Ibu kandung saya meminta dua syarat: saya harus masuk Islam, dan identitas saya sebagai anaknya harus dirahasiakan,” jelas Cleo.
Keputusan tersebut membawa konflik baru dalam hidupnya, termasuk penolakan dari keluarga angkatnya dan hubungan yang rumit dengan ibu kandungnya.
“Saya merasa kehilangan arah saat itu. Umur saya baru 18 tahun, dan saya tidak tahu harus bergantung pada siapa,” ungkapnya.
Ditengah kesempatan itu Cleo bertemu dengan Habib Muhammad Bin Ali Bin Abdurrahman, yang menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Beliau tidak pernah menghakimi saya, meski penampilan saya saat itu jauh dari kesan Islami. Habib selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan kasih sayang,” katanya.

Cleo menuturkan, awalnya ia skeptis tentang sosok Habib sebagai keturunan Nabi. Namun, perlahan ia mulai memahami melalui akhlak dan sikap yang ditunjukkan oleh Habib.
“Habib mengajarkan bahwa nasab adalah anugerah yang harus dijalankan dengan amanah dan akhlak. Itu yang membuat saya ingin belajar lebih banyak,” jelasnya.
Selama enam tahun dibimbing oleh Habib Muhammad, Cleo akhirnya memutuskan untuk berhijrah secara penuh. Ia mulai meninggalkan gaya hidup lamanya dan fokus menjalani kehidupan yang lebih Islami.Perjuangan Sebagai Single Parent atau seorang ibu tunggal, Cleo mengaku bahwa anak-anaknya menjadi motivasi terbesar untuk berubah.
“Habib selalu mengingatkan saya, hidup yang sebenarnya adalah di akhirat. Saya harus kuat, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk masa depan anak-anak saya, terutama dalam hal agama,” ujarnya.
Kini, Cleo menjalani kehidupan yang lebih sederhana, mengurus anak-anaknya, dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah.
“Saya memilih untuk lebih banyak berkumpul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah. Itu memberikan manfaat besar bagi kehidupan saya,” tambahnya.
Rasa Syukur dan Pesan Inspiratif Cleo merasa bahwa segala ujian yang ia lalui adalah bentuk kasih sayang Allah.
“Saya yang dulu merasa dibuang oleh orang tua akhirnya diberikan pengganti yang luar biasa oleh Allah. Itu nikmat yang harus saya syukuri seumur hidup,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada Habib Muhammad dan keluarganya yang telah mendukungnya tanpa henti. “Kalau bukan karena mereka, mungkin saya akan terjerumus ke pergaulan yang salah. Ini semua adalah bukti kebaikan Allah kepada saya,” ucapnya dengan haru.
Harapan untuk Masa Depan Cleo berharap perjalanan hijrahnya dapat menginspirasi orang lain untuk tidak menyerah meski menghadapi banyak rintangan. “Perubahan itu tidak mudah, tapi jika niat kita tulus, pasti Allah akan membantu,” tutupnya.
Kini, Cleo terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan berharap dapat mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai agama yang kuat.
“Saya ingin hidup saya menjadi lebih berarti, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar saya,” tutupnya.