Diah Permatasari mengaku berhasil melewati tantangan besar dalam memainkan peran yang ia mainkan, sebagai sosok Astri di film Rego Nyowo, karena banyak belajar dan diskusi dengan sutradara Rizal Mantovani maupun produser Ricky Soraya dari Hitmaker Studio bersama Legacy Pictures dan Masih Belajar Pictures.

“Ternyata banyak kegilaan yang harus saya jalani, saya banyak belajar dan mendapat arahan dari Rizal (Rizal Mantovani))
Syuting Rego Nyowo di Padalarang penuh tantangan cuaca hutan. Perannya sebagai Astri pemilik rumah kos, mengharuskannya ikut mendalami dunia pesugihan. Sebagai seorang perempuan jatuh miskin kemudian berharap memperolah kekayaan dengan cara yang tak wajar, diah berhasil memainkan peran sesuai karakternya
Diah juga menghadapi tantangan besar dalam peran yang ia mainkan. Ia dituntun untuk memahami mantra-mantra persembahan. Ia juga dituntut melakukan adegan brutal membunuh siapa saja yang menghalangi rencananya.
“Tentu saya banyak diarahkan oleh sutradara dan juga produser. Saya tentu sangat tersanjung bermain di film ini karena sutradaranya siapa dulu, produsernya siapa dulu,” tutur Diah yang dikenal dengan drama horor 90an Si Manis Jembatan Ancol itu.
Ibu dari Marciano Nicholas Reynard dan Mecello Renara Djatmiko, mengakui banyak adegan sangat berat, menguras emosi dan tenaga. Syuting selesai jam enam pagi sampai matahari terbit.

Untungnya, segala kesulitan tersebut teratasi dengan kekompakan tim film horor. . “Kita semua itu stick together, kita kompak banget,” kata Diah Permatasari.
Proses produksi Rego Nyowo sendiri berlangsung penuh cerita mistis. Syuting yang awalnya direncanakan di lokasi asli kos yang menjadi inspirasi cerita harus dipindahkan, lantaran kru kerap diganggu makhluk tak kasat mata.
Salah satu yang paling ia ingat, adalah momen pengambilan gambar di sebuah lokasi yang cukup terpencil. “Jadi saya terakhir-terakhir itu menghabiskan scene saya di Padalarang. Saya di Padalarang itu sendiri kurang lebih seminggu. Di Hutan terpencil, kendalanya cuaca yang berubah hujan,
Rego Nyowo mengisahkan Lena (Sandrinna Michelle) yang pindah ke Malang untuk kuliah bersama kakaknya, Benhur (Ari Irham). Suasana kos terasa nyaman: murah, bersih, dan setiap minggu ada makan malam bersama seluruh penghuni.
Namun, ketenangan itu buyar ketika salah satu anak kos mengalami mimpi buruk dan bersikeras kos tersebut angker. Ia menyebut adanya pocong gantung. Awalnya Lena tidak percaya, hingga akhirnya ia sendiri melihat sosok itu.
Teror pun dimulai, mengungkap rahasia kelam kos yang ternyata menyimpan harga tinggi—bukan uang, tapi nyawa. Mereka tinggal di kos milik pasangan ramah, Bu Astri dan Pak Wiryo (Erwin Moron).
Rizal Mantovani mengatakan, sebagai senior Diah berhasil memainkan karakternya, juga pemain lain. Mereka bermain penuh emosional. “ Saya rasa ini bukan soal umur, masing-masing bermain lepas dengan karakter, suasana Syuting nyaman. Waktu persiapan yang cukup, semua dilakukan tanpa tergesa-gesa,” kata Rizal.
Film yang akin tayang pada 31 Juli nanti mengambil lokasi syuting di Malang, Padalarang dan Jakarta. Dibintangi Sandrinna Michelle dan Ari Irham, Cassandra Lee, Rayensyah Rassya, Zayyan Sakha, Sheva Audrey, Sinyo Riza, Zoe Jireh, Zasa Zefanya, Robert Chaniago Timor, dan Michael Russell.
Kehadiran Diah Permatasari, yang dikenal piawai memerankan karakter misterius, semakin memperkuat nuansa mencekam film ini. Untuk menambah keotentikan, sebagian besar adegan mengambil latar perkebunan pohon pisang yang luas. Film ini diadaptasi dari cerita asli thread viral ini terjadi.
Rocky Soraya menuturkan, pemilihan pemain dilakukan dengan sangat hati-hati. “Pendalaman karakter berlangsung lebih dari dua bulan, karena kami ingin semua aktor benar-benar menyatu dengan cerita,” ujarnya.





