Kehilangan Maliya Finda bukan hanya dirasakan keluarga, kerabat maupun teman dekat sesama pendaki Margareta Sulistiyowati. Margareta, tentu tak pernah terpikir, keputusan Maliya mendaki Gunung Piramid , Bondowoso Jawa Tengah, berakhir secara tragis.

Perempuan asal Wonokromo, Surabaya, dinyatakan hilang pada 2 Agustus lalu bersama pemandunya Irfan Nasrul Laili, Jenasah mereka ditemukan dua hari kemudian.
Tim SAR menemukan keduanya di kedalaman 60 meter. Proses evakusi berlangsung dramatis selama 13 jam karena alur pendakian yang dikenal memiliki medsn ekstrem, curam dan berbahaya. Proses evakuasi yang dramatis.
Maliya sudah dimakamkan keluarga di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur, Kamis,7 Agustus 2026, pukul 07.00 WIB.
Di mata Margareta, Maliya dikenal sebagai pribadi yang ramah sekaligus memiliki kecintaan besar terhadap alam bebas. Hobi mendaki gunung telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak lama. Ia tak ikut melakukan pendakian ke gunung Piramid. Maliya juga tak mengabarkan pada Retha bahwa dia akan mendaki.
Yang ia ketahui seharusnya pada tanggal 2 Agustus itu, Meliya berlibur ke Bali. “Beliau jadwalnya, Miinggu tanggal 2 itu ke Bali tapi di Sabtu tanggal 1 Agustus beliau berangkat ke Bondowoso, saya tidak tau, tapi ada beberapa teman mengetahui dia akan ke Piramid, ” ungkap Margaretha.
Dia menyesalkan putusan Maliya mendaki ke Piramid. Ia mengaku mengetahui bagaimana berbahayanya medan gunung yang memilki ketinggian 1.521 meter diata permukaan laut, dengan karakteristik sangat ekstrem dan dikenal dengan jalur ” punung naga”. Sangat berbahaya bagi yang belum mengenal medannya. ” Andai beliau ngomong mau ke Piramid pastinya saya akan melarang keras beliau kesana,” kata Margareta.
Retha menceritakan ia terakhir mendaki bersama Maliya pada 2 Agustus 2025 mendaki gunung Argopuro. Pada 26 juli 2026 keduanya sudah membuat rencana ke Bromo. Maliya tak bisu ikut karena ada keperluan lain. ” Dia ngajak ke Bromo, awlanya saya mau, tapi akhirnya saya ngak bisa ikut ada keperluan lain,” ucapnya.
Sosok Meliya dikalangan pendaki perempuan menurut Margaretha, adalah pribadi yang ramah. ” Beliau adalah sosok sahabat yg baik, ramah, murah hati, lucu, ceria,semangatnya berolahraga luar biasa, semangatnya jadi inspirasi saya pribadi, ” katanya.
Sebenarnya Maliya sudah sangat berpengelamana melakukan pendakian. Margaeetha mengenal Maliya sejak 2024. Mereka sering melakukan pendakian di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Tak Berani
Margaretha mengaku, sebenarnya ia ingin mendaki ke Piramid, namun ia tak mempunyai keberanian karena medannya sangat berbahaya. Bahkan ada beberapa pendaki yang tak dikenalnya mengajak untuk naik, ia tak memberi jawaban karena banyak pertimbangan.
” Gunung Piramid ini gunung yang berbahaya saya tau itu. Sempat dulu ada OT yang rajin ngetag kita berdua untuk ngajakin kesana tapi saya pribadi tidak berani, belum ingin kesana karenan ada biaya yang agak lumayan mahal saat itu menurut saya,”katanya.
Ia menyadari bagi setiap pendaki, mendakai dengam medan yang cukup berat adalah sebuah tantangan. Maliya sudah lama merindukan untuk mendaki Piramid. ” Beliau sebenarnya sudah ingin kesana, setiap ajakan ke gunung beliau tidak pernah menolak selalu jargonnya “gaspoll” terus itulah semangat mendakinya yang menurut saya luar biasa.”
Teman- teman yang mengetahui rencana Malia ke Piramid, tak lupa berpesan agar hati-hati. ” Beberapa teman ada yngg mengetahui beliau punya rencana kesana, pastinya sedkit banyak sudah memberikan penjelasan, dan pesan” agar beliau hati”. BAhkan ada beberapa teman online yang sudah melarang sebaiknya tidak kesana karena berbahaya. Saya menyesalkan dan menyayangkan musibah itu bisa terjadi,” ungkapnya.
Meski sudah dilarang, banyak yang memberi nasihat, keputusan tetap mendaki atau tidak adalah pilihan Maliya. ” Saya tidak tau bagaimama responnya dengan larangan itu. Kalau beliau cerita/ pamit ke saya pastinya akan saya larang keras, pasti saya akan memberikan banyak larangan, menjelaskan, bahkan semua hal yang terburuk. Tapi semua ini mungkin sudsh jalannya, kita tidak ada yang tau, tapi jika memang berbahaya sudah ada didepan mata harusnya kita bisa memikirkan hal terburuk yangg terjadi sebelum penyesalan dsn sesuatu terjadi,” ujar Margareta.
Kepergian Maliya membuat Margareta merasakan kehilangan yang luar biasa. Namuj ia akhirnya pasrah pada takdir dan jalan hidup seseorang.
Dugaan Margareta kemungkinan Maliya maupun pemandu jatuh terpeleset atau jatuh ke dasar jurang disebabkan faktor kelelahan.
” Jatuh kejurang bisa jadi karena faktor terpeleset salah pijak atau memang fisik yang sudah lelah saat menuju puncak sehingga kemungkinan beliau kesulitan untuk mengatur posisi badan ,kaki, dan fokus jadi tidak lg maksimal saat akan kembali turun dari puncak,” ucapnya.
Perempuan yang sehari sebagai ubu rumah tangga itu menyebutkan penyebab lain. ” Kemungkinan faktor kehabisan air (dehidrasi)kehilangan keseimbangan, fokus karena infonya ditemukan beliau membawa 3 botol mineral 600 ml. Mungkin menurut saya beliau pegangan /dipegangi oleh guide kemudian mungkin beliau / guide yang tidak bisa menjaga keseimbangan sehingga faktor tarik menarik itu terjadi, mereka berdua jatuh bersama,”kata.
Sebagai pendaki Maliya pernah mendaki Gunung Rinjani, Raung, Kerinci, Latimojong dengan medan yang sulit berhasil menuju puncak.
” Kemungkinan beliau juga akan menganggap piramid juga g kurang lebih medan nya seperti gunung- gunung tersebut, sehingga mungkin dengan keyakinannya beliau mengambil keputusan untuk pergi kesana. Guide juga punya pengalaman yang sama,” beber Margareta
Diakui Margareta, ia kagum melihat petualangan mendaki gunung yang dilakukan Maliya. Saat itu reels nya fyp & sata sempat follow IG nya & memberi komen” yang sangat terkesan dengan pendakian beliau. Saat itu juga beliau mengkomen reel saya di gunung Lorokan , dia pingin kesana akhirnya kita saling dm, ternyata dia orang Surabaya juga, saat itu kali pertama mengenal saya menemani beliau ke Lorokan, berlanjutlah kemana.mana. Kita pergi kegunung selalu berdua,” tutur Margareta.
Apa pengelaman yang luar biasa selama mendaki ? ” Pengalaman Terhebat saat mendaki bersama menurut saya sm tidak ada yang biaa dkatakan terhebat karena saya menganggap pendakian terhebat adalah berhasil kembali kerumah dengan selamat, ” tutup Margareta.






