Oleh : Syamil Shafa Besayef
Yogyakarta. Mendengar kata Islam tentu akan sangat banyak pemahaman dan pandangan tentang hal tersebut agama, ajaran, peradaban bahkan secara psikologis ketika mendengar Islam seringkali orang cukup sinis, skeptis walaupun tidak selalu demikian.

Islam sebagai sebuah agama seringkali hadir dalam bentuk simbol ataupun ritual secara praktis, melalui upacara ritual, peribadatan secara teologis, ataupun dengan semboyan semboyan tauhid. Alhasil umat muslim maupun non muslim memahami Islam sebagai agama yang sekedar simbolistik dan ritualistik
Namun sangat disayangkan ajaran Islam hanya dipahami demikian tanpa mengetahui Islam sebagai sebuah ajaran yang memberikan tata nilai, etika, norma yang kemudian membentuk pondasi bagi sebuah peradaban. Akan tetapi Islam sebagai tata nilai, norma yang membentuk peradaban jarang sekali terdengar realitanya.
Islam seakan akan tereduksi hanya sebagai agama ritualistik yang hanya menjalankan ibadah saja secara formalitas namun tidak mencerminkan nilai nilai yang menjadi pokok ajaran. Doktrin dipahami sebagai nilai dasar atau prinsip etis yang menjadi dasar dan juga tuntunan dalam bertindak.
Begitu juga dengan Islam sebagai doktrin, Islam di dalam ajarannya mengedepankan tentang kasih sayang, toleransi, kemampuan akal, dan sifat manusia yang selalu berpaku pada kebenaran. Secara logis ajaran Islam yang ada bisa dipandang sangat baik dan syarat akan kebermanfaatan dan umat Islam sudah selayaknya dapat menunaikan secara praktis doktrin tersebut. Namun kita perlu memahami bahwa doktrin bukanlah suatu hal yang menuntut melainkan menuntun. Alhasil kita tidak bisa melihat secara normatif dan mayoritas nilai dari ajaran Islam dapat diterapkan dalam kehidupan.
Doktrin menjadi semacam tulisan dalam lembaran dan sebagai umat muslim kita mendapat tugas untuk membaca kemudian memahaminya. Pemahaman terhadap doktrin Islam sebagai tuntunan hidup meniscayakan adanya keterlibatan aktif manusia dalam menerjemahkan nilai ke dalam realitas sosial.
Islam tidak pernah berhenti pada perintah normatif, tetapi selalu mendorong kesadaran etik dan tanggung jawab historis umatnya. Nilai keadilan, kemanusiaan, dan kejujuran yang terkandung dalam ajaran Islam sejatinya menghendaki kehadiran nyata dalam ruang publik, bukan sekadar pengakuan simbolik.
Ketika doktrin hanya dipahami sebagai kewajiban formal, maka Islam kehilangan daya transformatifnya sebagai pembentuk peradaban. Pada titik inilah Islam seharusnya dibaca sebagai kerangka nilai yang mengarahkan cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Peradaban tidak lahir dari ritual yang dipisahkan dari kehidupan, melainkan dari internalisasi nilai yang diwujudkan melalui ilmu pengetahuan, etika sosial, dan keberpihakan terhadap keadilan.
Tanpa upaya menerjemahkan doktrin ke dalam praksis sosial, Islam berisiko terjebak dalam pengulangan simbol tanpa makna, jauh dari cita-cita awalnya sebagai ajaran yang memuliakan manusia dan membangun tatanan kehidupan yang berkeadaban.
Islam harus dipandang luas bukan hanya tataran ritual dan ibadah seremonial namun kita sebagai umat haruslah kita menggunakan kacamata yang komprehensif dalam melihat sesuatu. Seperti melihat Islam tidaklah patut untuk memahami secara spiritual yang merujuk pada praktek ibadah saja melainkan unsur lain dalam Islam yang perlu dipahami untuk membentuk gagasan dalam perubahan.





