Friday, April 24, 2026
Cakraline
  • Home
  • Celebrity
    • Lifestyle
  • Female
    • Inspiratif
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Isu Khusus
  • Film & Musik
    • Fashion
    • Musik
  • travel
    • Destinasi
    • Galeri
  • Video & TV Streaming
  • Olahraga
    • Lokal
    • Internasional
  • Home
  • Celebrity
    • Lifestyle
  • Female
    • Inspiratif
  • Nasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Isu Khusus
  • Film & Musik
    • Fashion
    • Musik
  • travel
    • Destinasi
    • Galeri
  • Video & TV Streaming
  • Olahraga
    • Lokal
    • Internasional
Morning News
No Result
View All Result
Home Isu Khusus

Ikatan Apoteker Idonesia Tangapi Video Alami Reaksi Hebat Setelah Mengkonsumsi Oseltamivir

by sal
July 18, 2021
0
0
SHARES

Cakraline.com. Jakarta – Menanggapi video yang beredar mengenai seorang wanita penyintas Covid-19 yang membagikan pengalamannya setelah meminum oseltamivir, dua pakar Ikatan Apoteker Indonesia ( IAI ), Prof Dr apt Zullies Ikawati dan Prof Dr apt Keri Lestari, MSc berpendapat kemungkinan yang dialami oleh wanita tersebut bukan disebabkan oleh oseltamivir.

Prof-Dr-apt-Zullies-Ikawati-dari-Pengurus-Pusat-Ikatan-Apoteker-Indonesia-PP-IAI-foto-Ist
Prof-Dr-apt-Zullies-Ikawati-dari-Pengurus-Pusat-Ikatan-Apoteker-Indonesia-PP-IAI-foto-Ist

“Sebab yang diminum oleh penderita Covid-19 bukan hanya satu jenis obat, tetapi ada beberapa. Kita tidak tahu persis yang mana yang menyebabkan reaksi hebat, yaitu mual, muntah dan vertigo seperti yang dirasakan oleh ibu itu,”ungkap Prof Dr apt Zullies Ikawati dari Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), dalam keterangan tertulisnya yang diterima Cakraline.com.

Dalam video berdurasi 1 menit 37 detik tersebut, ditunjukan kemasan strip oseltamivir yang telah berkurang 1 kapsul. Suara seorang wanita menuturkan, dirinya mengalami reaksi berupa muntah hebat dan kepala terasa berputar, selang 1 menit setelah mengkonsumsi obat tersebut.

Akibat reaksi tersebut, ia tidak melanjutkan mengkonsumsi obatnya, meski sisa obat tersebut dibawanya pulang. Suara wanita dalam video tersebut menyebutkan bahwa obat ini sangat berbahaya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua PP IAI, Prof Dr apt Keri Lestari yang menyebutkan, kemungkinan besar yang dialami wanita tersebut adalah reaksi alergi dan belum tentu disebabkan oleh oseltamivir. Bisa saja berasal dari obat lain atau suplemen yang diberikan oleh dokter.

“Kalau toh ada efek samping juga tidak akan separah itu. Memang ada efek samping yang disebabkan oleh oseltamivir, tetapi bukan efek samping yang parah. Oseltamivir ini obat antivirus yang cukup aman,” tegasnya.

Selain itu menurut Zullies, untuk dapat memberikan efek seperti yang diharapkan, obat memerlukan waktu yang cukup apabila digunakan secara oral atau diminum. Berbeda dengan obat yang diberikan secara injeksi, memang akan memberikan efek yang lebih cepat.

Prof-Dr-apt-Keri-Lestari-MSc-IAI-foto-Ist.
Prof-Dr-apt-Keri-Lestari-MSc-IAI-foto-Ist.

Dalam hal obat yang diminum, maka obat memerlukan waktu dan proses hingga sampai ke lambung. Di lambung obat akan diuraikan, kemudian diserap oleh lambung maupun usus. Obat tersebut kemudian akan diedarkan atau didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah hingga sampai ke tempat aksinya untuk bekerja.

“Proses itu memerlukan waktu, jadi kalau dikatakan dalam waktu kurang dari 1 menit sudah terjadi reaksi yang cukup hebat seperti itu, maka dugaan saya bukan karena obat. Mungkin karena ada faktor lain, bisa jadi ada faktor psikologis, atau mungkin memang ada faktor fisik, yang kebetulan terjadi sesaat setelah minum obat, karena gejala covid-19 ada yang sampai mual, muntah dan sebagainya. Maka sekali lagi, dugaan saya bukan karena obat,”tegas Zullies.

Sebab bila terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit, Zullies menduga, obat tersebut masih berada di lambung dan belum diserap sepenuhnya, sehingga belum akan memberikan efek terhadap tubuh.

Sebagai obat antiinfluenza, oseltamivir diketahui memiliki keamanan yang cukup baik. Efek sampingnya tidak terlalu berat, meskipun diketahui ada beberapa efek seperti mual, muntah, insomnia dan vertigo.

“Namun sekali lagi, kalau toh terjadi efek samping, juga tidak akan secepat itu, yaitu terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit. Sekali lagi obat membutuhkan proses untuk memberikan efek. Begitupun kalau toh itu adalah reaksi alergi efek berlebihan yang mungkin berbeda dari orang lain, juga tidak akan terjadi secepat itu, tetap membutuhkan proses,” tutur Zullies.

Menanggapi wanita dalam video tersebut tidak meneruskan mengkonsumsi obatnya, Keri Lestari sangat menyesalkannya.

“Obat harus dipatuhi dosisnya, kalau memang ada efek samping harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat untuk dapat dipikirkan apa Langkah selanjutnya. Ada yang disebut dengan monitoring efek samping obat (MESO), ini akan dilaporkan ke regulator dalam hal ini BPOM bila memang terjadi efek samping obat yang hebat,”papar Keri.

Tetapi, lanjut Keri, dalam hal ini ada satu pelajaran berharga yang patut diambil, bahwa wanita tersebut pada akhirnya pulang kembali ke rumah, setelah dirawat di rumah sakit, tanpa meneruskan meminum oseltamivir, itu menunjukkan bahwa SARSCov-2 ini memang adalah virus jenis self limiting disease. Virus SARSCov-2 penyebab Covid-19 tersebut akan mati dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu.

“Karena dia tidak minum oseltamivir dan ternyata sembuh, buktinya sudah pulang kembali ke rumah, artinya sudah ada progress, ada kemajuan. Cukup dengan terapi supportif atau pendukung saja. Tanpa antivirus ternyata juga bisa sembuh,” kata Keri.

Dalam hal penggunaan Oseltamivir bagi pasien Covid-19, dalam berbagai webinar, Zullies sudah acapkali menyampaikan, bahwa sejatinya obat ini bukan pilihan yang tepat. Secara mekanisme obat, oseltamivir tidak cocok digunakan untuk Covid-19, sebab oseltamivir adalah penghambat enzim neuroaminidase.

Enzim tersebut memang ada dalam virus influeza, tetapi tidak ada dalam SARSCov-2, virus penyebab Covid-19. Jadi memang oseltamivir tidak bisa digunakan untuk mengobati Covid-19 karena targetnya tidak ada. Di awal pandemic, karena pengetahuan mengenai Covid-19 ini belum cukup memadai, para ahli masih belum bisa memastikan apakah Covid-19 ini termasuk jenis flu atau bukan. Seiring perkembangan penyakit, kemudian diketahui bahwa Covid-19 bukan jenis flu. Oleh karena itu, dalam panduan terapi terbaru, Oseltamivir hanya diberikan bila ditemukan gejala koinfeksi dengan influenza.

“Jadi sekali lagi menurut saya oseltamivir masih relatif aman untuk digunakan, jika memang ada indikasi untuk menggunakan,” tegas Zullies.

Dalam video berdurasi 1 menit 37 detik tersebut, ditunjukan kemasan strip oseltamivir yang telah berkurang 1 kapsul. Suara seorang wanita menuturkan, dirinya mengalami reaksi berupa muntah hebat dan kepala terasa berputar, selang 1 menit setelah mengkonsumsi obat tersebut. Akibat reaksi tersebut, ia tidak melanjutkan mengkonsumsi obatnya dan membawanya pulang setelah diperbolehkan pulang dari RS. Suara wanita dalam video tersebut menyebutkan bahwa obat ini sangat berbahaya.

No Result
View All Result

Recent Posts

  • Peluncuran 100 CTFP Happiness Golden Hope di Tengah Tanah Bergerak: 6 Kartini Bantargadung Hadirkan Harapan
  • ABPEDNAS Gelar Jaga Desa Awards 2026, Dorong Transparansi dan Partisipasi Warga Desa
  • Marthen Malelak Pedagang Kopi ke  Bisnis  Kecantikan, Sukses di Industri Anti-Aging
  • Mpok Atiek  Rutin Perawatan, Dokter  Patrick  Ungkap Tren Kecantikan 2026 Tanpa Operasi
  • Rossa, Somasi Pemilik Akun Medsos Yang Sengaja Menyebar Fitnah

Recent Comments

    Archives

    • April 2026
    • March 2026
    • February 2026
    • January 2026
    • December 2025
    • November 2025
    • October 2025
    • September 2025
    • August 2025
    • July 2025
    • June 2025
    • May 2025
    • April 2025
    • March 2025
    • February 2025
    • January 2025
    • December 2024
    • November 2024
    • October 2024
    • September 2024
    • August 2024
    • July 2024
    • June 2024
    • May 2024
    • April 2024
    • March 2024
    • February 2024
    • January 2024
    • December 2023
    • November 2023
    • October 2023
    • September 2023
    • August 2023
    • July 2023
    • June 2023
    • May 2023
    • April 2023
    • March 2023
    • February 2023
    • January 2023
    • December 2022
    • November 2022
    • October 2022
    • September 2022
    • August 2022
    • July 2022
    • June 2022
    • May 2022
    • April 2022
    • March 2022
    • February 2022
    • January 2022
    • December 2021
    • November 2021
    • October 2021
    • September 2021
    • August 2021
    • July 2021
    • June 2021
    • May 2021
    • April 2021
    • March 2021
    • February 2021
    • January 2021
    • December 2020
    • November 2020
    • October 2020
    • September 2020
    • August 2020
    • July 2020
    • June 2020
    • May 2020
    • April 2020
    • March 2020
    • February 2020
    • January 2020
    • December 2019
    • November 2019
    • October 2019
    • September 2019

    Categories

    • Destinasi
    • Ekonomi
    • Event
    • Exclusive
    • Fashion
    • Film
    • Galeri
    • Inspiratif
    • Isu Khusus
    • Kolom Mahasiswa
    • Musik
    • Nusantara
    • Regional
    • Transportasi

    Meta

    • Log in
    • Entries feed
    • Comments feed
    • WordPress.org
    • Destinasi
    • Ekonomi
    • Event
    • Exclusive
    • Fashion
    • Film
    • Galeri
    • Home
    • Inspiratif
    • Internasional
    • Isu Khusus
    • Kontak
    • Lifestyle
    • Lokal
    • Musik
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Politik
    • Regional
    • Susunan Redaksi

    © 2024 Cakraline

    No Result
    View All Result
    • Home
    • Celebrity
      • Lifestyle
    • Female
      • Inspiratif
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Politik
      • Isu Khusus
    • Film & Musik
      • Fashion
      • Musik
    • travel
      • Destinasi
      • Galeri
    • Video & TV Streaming
    • Olahraga
      • Lokal
      • Internasional

    © 2024 Cakraline