JAKARTA – Tawa canda, salaman dan saling peluk erat antara elit politik pimpinan parpol usai menghadiri HUT Partai Nasdem ke-8, di JI Expo, Jakarta, Senin (11/11/19) malam, seperti tidak pernah terjadi apa apa pada mingggu-minggu lalu diantara mereka yang saling sindir.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sebagai piminan Lembaga Tinggi Negara merasa bahagia dan bersyukur atas suasana yang sangat menyenangkan itu. “Seluruh elite politik memang harus guyub, rukun, dan damai. Dengan begitu kita bisa bersama-sama bergotong royong membangun bangsa dan negara ini,” ujar Bambang.
Untuk diketahui bahwa pasca HUT ke -8 Nasdem itu, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Imam dan kemudian dengan Presiden Joko Widodo saling berangkulan dan berpelukan erat. Itu juga disaksikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri beserta para pimpinan parpol lainnya.
“Sebagaimana disampaikan Presiden Joko Widodo, sebetulnya tidak ada yang salah dengan rangkul merangkul. Hanya saja Bang Surya Paloh sepertinya tidak menyadari, bahwa sebagai senior dalam perpolitikan di Indonesia, para juniornya seperti saya maupun lainnya juga ingin dirangkul oleh beliau,” ujar Bambang.
Selain Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Maruf Amin, turut hadir para tokoh lain seperti Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS sekaligus Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Sekretaris Jenderal PPP sekaligus Wakil Ketua MPR RI Asrul Sani, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Yudhoyono.
Menurut Bambang Soesatyo yang akrab dipanggil Bamsoet itu, kembali cerahnya cuaca perpolitikan menandakan semangat maju dari para elite politik untuk gotong royong membangun Indonesia. Mengingat begitu banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, dari mulai menghadapi potensi resesi ekonomi dunia, ledakan jumlah penduduk dunia, evolusi media sosial, hingga ketegangan geopolitik akibat Brexit maupun perang dagang Tiongkok dengan Amerika.
“Berbagai masalah dunia bisa berdampak kepada Indonesia. Karenanya jangan ditambah lagi dengan masalah yang datang dari internal dalam negeri. Jika para elite bisa rukun damai, akan memberikan teladan kepada rakyat bahwa dalam membangun bangsa butuh kerjasama dari semua pihak. Tidak boleh saling curiga, saling sindir, apalagi saling menjatuhkan,” tutur Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan, etika politik perlu ditegakan sehingga bisa menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, bertanggungjawab, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, kesediaan untuk menerima pendapat, serta menjunjung tinggi hak asasi manusia, keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa.
“Masalah potensial yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertentangan, harus bisa diselesaikan secara musyawarah, dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan sesuai dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur Pancasila,” kata Bamsoet.
Dengan demikian lanjut dia lagi, bisa menciptakan suasana harmonis antarpelaku dan antarkekuatan sosial politik untuk mencapai sebesar-besar kemajuan bangsa dan negara dengan mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan golongan,” pungkas Bamsoet.