Runtuhnya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Senin (29/9), membuat aparat kepolisian dan tim gabungan bergerak cepat. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan identifikasi korban.

”Tim DVI sudah membentuk posko bersama tim gabungan,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast, Selasa (30/9) dikutip dari Radar Surabaya.
Hingga kemarin, total 102 orang berhasil dievakuasi. Sebanyak 91 orang keluar secara mandiri, 11 lainnya ditolong tim SAR. Dari jumlah itu, 101 orang selamat. Para korban dibawa ke RS Siti Hajar, RSUD Sidoarjo, dan RS Delta Surya.
Selain tim DVI, Polda Jatim juga mengerahkan satu pleton Sabhara, satu pleton Brimob, dan tiga SSK dari Polresta Sidoarjo. Mereka bertugas membantu evakuasi sekaligus mengamankan lokasi kejadian.
Penyisiran di antara puing-puing masih terus dilakukan. Polisi bersama TNI, BPBD, SAR, dan relawan memastikan tidak ada korban yang tertinggal.
Diperkirakan lebih dari 7 santri yang masih hidip dan tertimbun diantara reruntuhan bangunan.
Sekretaris Daerah Jawa Timur Andhy Karyono, mengatakan, tim penyelamat fokus menyelematkan 7 orang yang masih hidup. Untuk ketujuh orang itu, suplai makanan dan bantuan oksigen terus disalurkan.
Tim SAR tenggah berjuang menyelamatkan korban yang masih hidup. Menurut Andhy Karyono, diharapkan proses evakuasi bisa selesai hari ini.
Informasi dari Kantor SAR Surabaya, insiden terjadi sekitar pukul 15.35 saat pengecoran berlangsung sejak pagi. Diduga fondasi tidak kuat sehingga bangunan bertingkat itu roboh hingga lantai dasar.
Proses evakuasi cukup sulit. Reruntuhan yang padat dan medan sempit membuat tim SAR harus menggunakan peralatan ekstrikasi untuk membuka akses. Basarnas juga menurunkan regu spesial dari Jakarta serta tim bantuan dari beberapa kantor SAR terdekat.





